- Home
-
- Luar Negeri
-
- Russia dan Ukraina Saling ...
Russia dan Ukraina Saling Serang Saat Rencana Perdamaian Dibahas di Jenewa
Selasa, 25 Nov 2025, 12:00 WIBKYIV - Ukraina dan Russia pada hari Selasa (25/11) menghitung jumlah korban setelah keduanya saling serang semalam, sementara para negosiator bergegas merevisi kerangka kerja untuk mengakhiri konflik sebelum tenggat waktu yang ditetapkan AS.
Presiden AS Donald Trump memberi Kyiv waktu hingga 27 November -- hari libur Thanksgiving di Amerika -- untuk menanggapi usulannya mengakhiri pertempuran, sebuah garis waktu dan cetak biru yang ditolak para pemimpin Eropa.
Kyiv dan sekutunya menghabiskan akhir pekan untuk membahas rencana 28 poin Washington, yang awalnya mendekati tuntutan Russia, yang mengharuskan Ukraina menyerahkan wilayah, memangkas militernya, dan berjanji untuk tidak pernah bergabung dengan NATO.
Versi terbaru, yang bertujuan untuk "menegakkan kedaulatan Ukraina", sedang disusun, sementara musuh meningkatkan tekanan di medan perang.
Pada Selasa pagi, Penjabat Gubernur Russia untuk wilayah Rostov, Yuri Sliusar, mengatakan setidaknya tiga orang tewas akibat serangan Ukraina.
"Serangan musuh malam ini membawa duka yang mendalam," kata Yuri Sliusar.
Di kota pelabuhan Taganrog di wilayah tersebut di mana salah satu korban tewas, Wali Kota Svetlana Kambulova berjanji akan mengambil "langkah-langkah respons yang diperlukan".
Di wilayah perbatasan Krasnodar, Gubernur Veniamin Kondratyev menyebut pengeboman semalam itu sebagai "salah satu serangan rezim Kyiv yang paling berkelanjutan dan masif".
Di seberang perbatasan di ibu kota Ukraina, wartawan AFP mendengar ledakan dahsyat dan melihat orang-orang berlarian mencari perlindungan saat sirene serangan udara meraung-raung.
Pihak berwenang di Kyiv mengatakan setidaknya satu orang tewas dan tujuh orang luka-luka di ibu kota, setelah rentetan rudal dan drone menargetkan sektor energi negara yang sedang terkepung.
"Kita harus menyadari bahwa Russia tidak akan mengurangi tekanannya terhadap Ukraina," kata Presiden Volodymyr Zelensky saat angkatan udaranya mengeluarkan peringatan rudal di seluruh negeri.
Zelensky menggambarkan negaranya berada dalam "momen kritis", setelah pekan lalu mengatakan Ukraina berisiko kehilangan "martabatnya" atau Washington sebagai sekutu.
Presiden Russia Vladimir Putin, yang menyambut baik rencana awal AS, mengancam akan merebut lebih banyak wilayah Ukraina jika Kyiv menarik diri dari negosiasi.
Militer Russia telah menduduki sekitar seperlima wilayah Ukraina -- sebagian besar telah porak-poranda akibat pertempuran bertahun-tahun.
Kyiv dan sekutu-sekutunya di Eropa mengatakan perang tersebut, yang terbesar dan paling mematikan di tanah Eropa sejak Perang Dunia II, adalah perampasan tanah yang tidak beralasan dan ilegal yang telah mengakibatkan gelombang kekerasan dan kehancuran.
Puluhan ribu warga sipil dan personel militer tewas sejak Russia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022.
Rencana yang DirevisiÂ
Negara-negara pendukung Ukraina dijadwalkan mengadakan panggilan video pada hari Selasa setelah pembicaraan darurat di Jenewa selama akhir pekan antara delegasi AS, Eropa, dan Ukraina.
Pernyataan bersama AS-Ukraina setelah perundingan mengumumkan "kerangka kerja perdamaian yang diperbarui dan disempurnakan".
Meskipun draf terbaru belum dipublikasikan, Gedung Putih memujinya sebagai kemajuan, dan pernyataan bersama tersebut menegaskan "setiap perjanjian di masa depan harus sepenuhnya menjunjung tinggi kedaulatan Ukraina".
Delegasi Kyiv mengatakan draf terbaru "sudah mencerminkan sebagian besar prioritas utama Ukraina".
Kanselir Jerman Friedrich Merz meragukan kemampuan untuk mencapai kesepakatan sebelum batas waktu Trump pada 27 November, dengan mengatakan bahwa diskusi akan menjadi "proses yang panjang dan berlarut-larut".
Amerika Serikat telah mengabaikan Eropa dengan rencana awalnya. Banyak pemerintah Uni Eropa merasa resah dengan prospek berakhirnya perang sesuai ketentuan Moskow.
Rencana AS, yang awalnya terdiri dari 28 poin, akan membuat Ukraina secara efektif menyerahkan wilayah Donetsk dan Lugansk timurnya kepada Russia dan memangkas jumlah militernya -- tuntutan yang tidak dapat diterima Kyiv.
Gedung Putih menepis kritik bahwa Trump memihak Russia dalam upayanya untuk mengakhiri perang.
"Gagasan bahwa Amerika Serikat tidak melibatkan kedua belah pihak secara setara dalam perang ini untuk mengakhirinya adalah kekeliruan total," ujar Sekretaris Pers Karoline Leavitt kepada wartawan pada hari Senin.
Seorang pejabat senior mengatakan kepada AFP bahwa Amerika Serikat telah mendesak Ukraina untuk menerima proposal tersebut.
Pejabat yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan Washington tidak secara langsung mengancam akan menghentikan bantuan jika Kyiv menolak proposalnya, tetapi Ukraina memahami bahwa hal ini merupakan kemungkinan yang nyata.
Sumber tersebut mengatakan mereka tidak mengerti mengapa Washington terburu-buru mencapai kesepakatan, tetapi "semua orang" mendukung diakhirinya perang jika ada peluang nyata untuk melakukannya.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Film Animasi “KPop Demon Hunters” Raih Dua Penghargaan di Oscar 2026
-
Russia Peringatkan Para Diplomat Asing di Kyiv untuk Mengungsi Jelang Perayaan Hari Kemenangan PD II
-
Pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1447 H di Kota Mataram Berjalan Khidmat
-
Kemenekraf Fasilitasi Klip Video Musisi Jawa Tengah lewat AKTIF Musik
-
Lisa Blackpink Kunjungi “Punch”, Monyet Kesepian yang Viral di Jepang
-
Proses Verifikasi Pendaftaran Mudik Gratis oleh Pemprov DKI Jakarta
-
Russia Tuduh Rezim Ukraina Neo-Nazi, Situasi HAM Disebut Memburuk
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.