Rupiah Sepenjang Tahun Ini Terjun 567 Poin! Dolar AS Kian Perkasa, Kurs Nyaris Sentuh Rp16.700
Senin, 24 Nov 2025, 20:55 WIBJAKARTA â Sepanjang 2025 hingga Senin (24/11), rupiah melemah 567 poin atau sekitar 3,51 persen ke level Rp16.699 per dolar AS, jauh melampaui asumsi APBN 2025 sebesar Rp16.000.
Pelemahan ini mencerminkan tekanan eksternal yang masih kuat, terutama dari ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed serta penguatan dolar secara global.
Kondisi tersebut meningkatkan volatilitas pasar keuangan domestik dan berpotensi menambah beban pembiayaan negara, mengingat selisih kurs terhadap asumsi APBN dapat berdampak pada belanja dan pembayaran utang valas.
Meski fundamental domestik relatif terjaga, tekanan eksternal yang persisten menunjukkan bahwa stabilisasi rupiah masih menjadi tantangan utama jelang akhir tahun.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Senin (24/11) sore, menguat sebesar 17 poin atau 0,10 persen menjadi Rp16.699 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.716 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga menguat di level Rp16.709 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.719 per dolar AS.
Sebagai perbandingan, kurs rupiah terhadap dolar AS di penghujung tahun lalu atau pada perdagangan 31 Desember 2024 berada di level Rp 16.132 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai penguatan kurs rupiah dipengaruhi kenaikan ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
âProbabilitas penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh Federal Reserve (Fed) pada bulan Desember melonjak menjadi sekitar 69 persen dari sekitar 44 persen seminggu sebelumnya, menurut CME FedWatch Tool,â ujarnya dalam keterangan tertulis, Jakarta, awal pekan ini.
Menurut Ibrahim, pidato dari para pejabat The Fed dan data ekonomi AS yang telah dirilis mengisyaratkan bahwa perekonomian tetap solid, dengan pasar tenaga yang tangguh tetapi harga-harga tetap tinggi.
Peningkatan harapan pemotongan suku bunga The Fed mendapatkan pengaruh dari komentar Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams yang menyampaikan penyesuaian kebijakan mungkin dilakukan dalam waktu dekat.
Namun, sejumlah pejabat The Fed telah memperingatkan inflasi masih terlalu tinggi dan pasar tenaga kerja terlalu ketat untuk pemangkasan suku bunga pada tahap ini, sehingga hasilnya masih belum pasti.
Para investor saat ini disebut akan mengambil lebih banyak isyarat dari sinyal ekonomi yang beragam dan penundaan rilis data inflasi utama. Data inflasi Producer Price Index (PPI) AS dan penjualan ritel akan dirilis pada hari Selasa (25/11).
âPPI utama diperkirakan akan menunjukkan peningkatan sebesar 0,3 persen MoM (month to month) pada bulan September, sementara penjualan ritel diproyeksikan menunjukkan peningkatan sebesar 0,4 persen MoM,â kata dia pula.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
IEA: Lebih dari 40 Aset Energi Timur Tengah Rusak Parah, Rantai Pasok Global Terancam
-
VAR Gagalkan Pesta Persijap, Drama 4 Gol di Bantul Bikin Laskar Kalinyamat Gigit Jari
-
Periode Pascalebaran, PELNI Berikan Diskon Tarif 20% untuk Muatan Kontainer
-
Rupiah Hari Ini Melemah Jadi Rp16.970 per Dollar AS Seiring Ketidakpastian Konflik di Timur Tengah
-
Hasil Proliga 2026: Pertamina Enduro Menang 3-1 atas Popsivo Polwan
-
Pemudik Mulai Melintas di Jalur selatan dan Tengah Jateng
-
Rupiah Tak Berkutik di Tengah Gejolak Dunia: Belum Genap Satu Semester, Pelemahan Sudah Signifikan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.