Bukan Sekadar Agenda Ekonomi, Wapres Sebut MBG Berdayakan Petani dan Peternak
📅 Senin, 24 Nov 2025, 01:05 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA - Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka menyatakan program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto merupakan investasi strategis.
Dalam sesi kedua Konferensi Tingkat Tinggi KTT negara-negara kelompok 20 (G20) di Johannesburg, Afrika Selatan, akhir yelan lalu, Gibran menyatakan ketahanan pangan dan program MBG bukan sekadar agenda ekonomi.
“Presiden Indonesia berfokus pada ketahanan pangan dan Makan Bergizi Gratis bagi 80 juta pelajar dan ibu hamil sebagai investasi strategis. Hal ini mendorong penggunaan produk lokal, memberdayakan petani dan peternak, sekaligus memperluas kegiatan ekonomi di berbagai bidang,” kata Wapres.
Pada pertemuan tingkat tinggi itu, Gibran mengatakan program MBG telah membawa efek berganda, seperti penggunaan bahan baku lokal dan pemberdayaan petani dan peternak sebagai pemasok.
Dalam sesi kedua KTT G20, tema yang dibahas berfokus pada pembangunan dunia yang tangguh (resilient world), yang mencakup isu kebencanaan, perubahan iklim, transisi energi berkeadilan (just energy transition), serta sistem pangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Gibran pun menyatakan bahwa solidaritas global dan kepemimpinan yang tegas dibutuhkan untuk mengatasi krisis yang semakin intensif. Pemerintah Indonesia pun mengajak Afrika Selatan untuk memajukan ketahanan energi, air dan pangan.
Indonesia yang merupakan negara kepulauan terletak di cincin api Pasifik, menghadapi lebih dari 3.000 bencana setiap tahun, mulai dari gempa bumi, banjir, hingga letusan gunung berapi.
Dengan kondisi geografis tersebut, maka ketahanan pangan, air, dan energi bukan sebuah slogan bagi Indonesia, melainkan kenyataan yang harus dihadapi sehari-hari.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Berangkat dari pengalaman-pengalaman ini, Indonesia mempromosikan konsep ketahanan berkelanjutan, sebuah kerangka kerja yang memungkinkan pembangunan manusia, pertumbuhan ekonomi, dan perlindungan lingkungan berjalan selaras,” kata Wapres.
Pendekatan Kolektif
Peneliti Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat di Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Awan Santosa yang diminta tanggapannya menyoroti masih rendahnya penggunaan produk lokal dan pangan lokal dalam program MBG, karena dominannya pengaruh bisnis dalam program strategis tersebut, ketimbang pemberdayaan potensi lokal seperti produk lokal.
“Multiplier efek MBG tidak akan optimal jika menggunakan pendekatan proyek yang didominasi oleh para elit bermodal besar,”tegas Awan.
Semestinya kata Awan, program jumbo itu menggunakan pendekatan kolektif, gotong royong, dan partisipasi multi pihak, sehingga nilai tambah sosial ekonominya lebih besar.
Dengan skema kolektif, keuntungannya tidak hanya dinikmati segelintir pihak tetapi dinikmati banyak kalangan bahkan sampai ke level paling bawah yakni petani produsen pangan lokal.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!