Jangan Jalan Sendiri! Wamendag Minta Eksportir Kakao Bali Manfaatkan Fasilitas Pemerintah
📅 Minggu, 23 Nov 2025, 20:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara.
DENPASAR – Peningkatan ekspor kakao menjadi langkah strategis untuk memperkuat daya saing agribisnis nasional sekaligus mendorong diversifikasi sumber devisa.
Meski Indonesia memiliki potensi besar sebagai produsen kakao, nilai ekspor masih tertahan akibat rendahnya produktivitas, kualitas biji yang bervariasi, dan dominasi ekspor dalam bentuk bahan mentah.
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri mengarahkan salah satu eksportir komoditas kakao di Bali memanfaatkan kerja sama pemerintah dalam melebarkan pasar di internasional.
Hal ini disampaikannya saat mengunjungi pabrik Cau Chocolates di Kabupaten Tabanan, Bali, dimana kerja sama yang dapat dimanfaatkan pengusaha adalah perjanjian dagang dengan beberapa negara, seperti Indonesia-Peru CEPA, Indonesia-Canada CEPA, dan Indonesia-Uni Eropa CEPA mendatang.
“Pasar-pasar ini menjanjikan, khususnya Eropa karena permintaanya terus tumbuh, pasarnya sangat menekankan aspek keberlanjutan, mereka suka produk yang orientasinya ramah lingkungan, baik untuk kesehatan, dan produk organik,” kata Wamendag dalam keterangan yang diterima di Denpasar, Minggu (23/11).
Sebaiknya Anda baca juga:
“Tapi selepas itu jangan dilupakan pasar-pasar yang dekat dengan kita seperti ASEAN, kami akan coba sambungkan dengan beberapa perwakilan perdagangan kita di 33 negara yang siap membantu,” sambungnya.
Dyah Roro berharap dengan bantuan koneksi ini, eksportir komoditas kakao dapat berpartisipasi dalam ajang-ajang pameran internasional yang selanjutnya akan mendatangkan lebih banyak pembeli.
Pelaku usaha juga diarahkan agar menggunakan fasilitas Inaexport agar berpotensi mendapatkan mitra dan berpartisipasi dalam business matching.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di Bali sendiri, Wamendag Dyah menyampaikan keinginannya agar hilirisasi semakin digenjot salah satunya pada komoditas kakao.
Baginya hilirisasi tidak harus di industri skala besar namun juga UMKM, salah satunya di Kabupaten Tabanan ini dimana kakao telah mengalami pemrosesan menjadi cokelat yang kemudian dikemas dengan bagus sehingga berdaya saing.
Berdasarkan data BPS, ekspor kakao, kakao olahan, dan makanan olahan berbahan dasar kakao Indonesia mencatatkan tren positif 16,20 persen pada 2021-2024.
Jika berdasarkan Januari-September 2025 saja, ekspornya tercatat sebesar 2,8 miliar dolar AS atau melonjak 68,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang senilai 1,6 miliar dolar AS.
“Kami melihat pertumbuhan ekspor cokelat sedang naik dan sebenarnya pasarnya di dunia ini cukup luas, seperti Eropa, Australia, dan Selandia Baru, untuk itu kunjungan kami ke sini bukan saja hanya melihat fasilitas dan pemberdayaan petaninya, kami juga melihat bagaimana Kementerian Perdagangan dapat mendorong pelaku usaha meningkatkan ekspornya dan memanfaatkan sejumlah perjanjian dagang yang sudah kita punya,” kata dia.
Kadek Surya selaku CEO Cau Chocolate di Tabanan juga mengungkapkan bahwa tantangan mereka adalah mencari lebih banyak pasar yang akan menerima produk olahan kakao mereka.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!