Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kenali Morning Surge, Momen Paling Berisiko Bagi Penderita Darah Tinggi

📅 Kamis, 20 Nov 2025, 20:25 WIB | Oleh:
 Kenali Morning Surge, Momen Paling Berisiko Bagi Penderita Darah Tinggi Doc: Bayer
Ket. Sesi diskusi “The Science Behind: The Importance of 24-Hour Hypertension Management” yang diselenggarakan oleh Bayer Indonesia di Jakarta pada hari Kamis (20/11). Morning surge atau lonjakan tekanan darah di pagi hari dapat meningkatkan risiko stroke dan serangan jantung, oleh karenanya kenali pentingnya pemantauan tekanan darah 24 jam.

JAKARTA – Hipertensi masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia. Saat ini 1 dari 3 orang dewasa hidup dengan tekanan darah tinggi, hanya 18,9 persen pasien yang mencapai tekanan darah terkontrol. Kondisi ini menempatkan jutaan orang pada risiko komplikasi serius seperti strok, serangan jantung, hingga gagal ginjal yang sering kali tanpa gejala apa pun.

Dalam momentum Hari Kesehatan Nasional, Bayer Indonesia kembali menekankan pentingnya edukasi publik mengenai manajemen hipertensi melalui sesi “The Science Behind: The Importance of 24-hour Hypertension Management.” Program ini membahas pendekatan ilmiah dalam pengendalian tekanan darah sepanjang 24 jam, termasuk risiko gelombang pagi (morning surge), lonjakan tekanan darah tajam yang terjadi pada pagi hari.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa dari 1,4 miliar penyandang hipertensi berusia 30-79 tahun di seluruh dunia. Meskipun banyak yang telah terdiagnosis dan menjalankan pengobatan (sekitar 44%), hanya 320 juta (23%) yang mengontrol hipertensi mereka. 

Di Indonesia prevalensinya mencapai 30,8% pada penduduk berusia 18 tahun atau lebih. Artinya, hampir 1 dari 3 orang dewasa Indonesia hidup dengan tekanan darah tinggi. Namun hanya 8,6 persen pasien yang terdiagnosis oleh Dokter, dan dari jumlah itu pun tak sampai separuhnya yang rutin mengonsumsi obat anti hipertensi (46,7%). Bahkan, dari pengonsumsi rutin pun hanya 18,9% yang berhasil mencapai tekanan darah terkontrol.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal dan Hipertensi, dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD-KGH, menegaskan bahaya tekanan darah tinggi yang sering terabaikan. Baginya jika selama ini hipertensi dijuluki 'the silent killer' bukan tanpa alasan.

Kondisi ini sering tidak bergejala, tetapi diam-diam dapat menyebabkan kerusakan pada organ-organ vital seperti jantung, ginjal, otak, dan pembuluh darah. Bahkan, sebagian besar pasien baru menyadari mereka mengidap hipertensi setelah mengalami komplikasi serius, seperti strok, kerusakan ginjal, dan serangan jantung.

“Sayangnya, proporsi pasien hipertensi di Indonesia yang belum terkendali masih sangat besar -mencapai 81,1%. Salah satunya disebabkan rendahnya kepatuhan pasien terhadap pengobatan hipertensi, dan minimnya pemantauan tekanan darah secara mandiri,” ungkpanya melalui keterangan tertulis pada hari Kamis (20/11).

Tekanan darah manusia mengikuti ritme sirkadian tubuh. Salah satu fase paling kritis adalah morning surge yaitu lonjakan tekanan darah tajam antara pukul 06.00–10.00 pagi. Momen ini dianggap paling berisiko. Lonjakan tekanan darah setelah bangun tidur dapat memicu strok atau serangan jantung, terutama pada pasien hipertensi derajat 2 dan 3.

“Inilah mengapa pasien perlu melakukan pengecekan tekanan darah secara mandiri dan teratur di pagi dan malam hari. Selain itu penting untuk patuh menjalankan pengobatan agar tekanan darah terkendali selama 24 jam untuk melindungi pasien dari komplikasi serius," papatnya.

Hipertensi terjadi ketika tekanan darah arteri secara konsisten berada di atas 130/85 mmHG dan berlangsung secara kronis (terus-menerus). Guna mencapai kontrol tekanan darah yang optimal, pengelolaan hipertensi memerlukan pendekatan holistik yang menggabungkan gaya hidup sehat dan penggunaan obat-obatan sesuai rekomendasi dokter.

Pasien perlu menjaga berat badan ideal melalui pola makan seimbang dengan memperbanyak sayur, buah, dan protein sambil membatasi asupan garam, serta dibarengi aktivitas fisik rutin minimal 30 menit per hari selama 3 - 5 hari per minggu, seperti jalan kaki, berenang atau bersepeda. Tak kalah penting, pasien harus membatasi konsumsi alkohol dan menghentikan kebiasaan merokok sebagai faktor risiko utama penyakit kardiovaskular.

Pasien Memegang Peran Utama dalam Manajemen Hipertensi

Pengelolaan hipertensi tidak hanya bergantung pada dokter, pasien memegang peranan utama. Pemantauan mandiri, kepatuhan mengonsumsi obat, dan pencatatan tekanan darah harian menjadi dasar bagi dokter untuk mengevaluasi terapi.

Dokter hanya dapat menilai kondisi dan menyesuaikan terapi berdasarkan data yang diberikan pasien, mulai dari catatan tekanan darah, kepatuhan obat, hingga keluhan harian. Semakin lengkap data tersebut, semakin tepat keputusan klinis yang dapat diambil.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur  

59 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Piala Dunia, Tim-tim Favori...
Ekonomi
Rupiah Hari Ini Melemah, Pa...
PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
# 7
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.