Transformasi Pembayaran Melesat, BI-FAST Kantongi Volume Transaksi Rp25 Kuadriliun Selama 4 Tahun
📅 Selasa, 11 Nov 2025, 20:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA-HO
JAKARTA – BI-FAST berhasil menjadi tulang punggung sistem pembayaran ritel nasional, menggantikan dominasi sistem konvensional seperti Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI). Peningkatan volume transaksi yang pesat juga menegaskan keberhasilan digitalisasi layanan keuangan di Indonesia, seiring meningkatnya inklusi keuangan dan penetrasi teknologi perbankan.
Ke depan, kinerja BI-FAST berpotensi terus tumbuh seiring perluasan partisipasi bank, fintech, dan lembaga keuangan nonbank, yang akan memperkuat ekosistem pembayaran digital nasional serta mendukung efisiensi ekonomi secara menyeluruh.
Bank Indonesia (BI) mencatat nilai transaksi yang diproses melalui BI-FAST telah menembus Rp25 kuadriliun dengan volume mencapai 9,61 miliar transaksi sejak pertama kali diluncurkan pada Desember 2021 hingga September 2025.
Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta mengatakan, capaian tersebut menjadi salah satu wujud kemajuan pembayaran digital yang tumbuh pesat selama beberapa tahun terakhir sejak implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025.
“Dalam kurun waktu enam tahun, kita bisa melihat sistem pembayaran Indonesia telah melakukan lompatan besar melalui berbagai inisiatif strategis. Dalam kurun waktu ini, kita sudah ada QRIS, BI-FAST, SNAP, elektronifikasi transaksi pemerintah dan transportasi,” kata Filianingsih dalam acara pembukaan Bulan Fintech Nasional (BFN) 2025 di Jakarta, Selasa (11/11).
Sebaiknya Anda baca juga:
BI-FAST adalah sistem pembayaran ritel nasional yang dikembangkan oleh Bank Indonesia (BI) untuk memfasilitasi transaksi keuangan secara real-time, cepat, murah, aman, dan tersedia 24 jam sehari.
Biaya transfer antarbank sebesar Rp2.500 per transaksi (maksimal yang boleh dikenakan bank kepada nasabah).
Sistem ini menjadi bagian dari inisiatif Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025, yang bertujuan memperkuat digitalisasi ekonomi nasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
Filianingsih juga mencatat interkoneksi pelaku sistem pembayaran yang semakin kuat, tercermin dari meningkatnya proporsi transaksi yang difasilitasi melalui penerapan Standar Nasional Open API Pembayaran (SNAP).
“Proporsi transaksi sistem pembayaran yang menggunakan standar SNAP ini mencapai 93 persen secara volume dan 83 persen secara nominal,” kata dia.
Tak hanya itu, Filianingsih juga merinci capaian transaksi QRIS dengan volume mencapai 10,33 miliar transaksi hingga September 2025. QRIS telah menjangkau 58 juta pengguna dan 41 juta merchant atau pedagang di seluruh Indonesia.
“Dari 41 juta merchant itu, mayoritas atau 90 persen lebih adalah UMKM. Capaian ini (penggunaan QRIS dalam transaksi) juga mendorong rasio inklusi keuangan yang menurut Susenas menyentuh 75,02 persen,” kata dia.
Ia mengungkapkan, QRIS juga terus dikembangkan agar bisa digunakan masyarakat untuk transaksi lintas negara (cross border). Saat ini, QRIS telah terhubung dengan QR milik Malaysia, Thailand, dan Singapura.
Baru-baru ini, QRIS juga terhubung dengan QR Jepang, namun masih tahap outbound, yakni baru dapat digunakan oleh masyarakat Indonesia saat bertransaksi di Jepang untuk memindai JPQR. Pada akhir tahun ini, BI menargetkan QRIS bisa digunakan di Tiongkok, baik outbound maupun inbound.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!