Raffi Ahmad Jadi Umpan Manis, Menteri KP Bidik Minat Generasi Muda ke Dunia Perikanan
📅 Minggu, 02 Nov 2025, 22:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/HO-KKP
JAKARTA – Sektor perikanan budidaya membutuhkan regenerasi untuk mengatasi penuaan populasi pembudidaya. Minat anak muda dapat menggantikan generasi tua dan membawa ide-ide baru.
Generasi muda membawa ide-ide inovatif, kreativitas, dan pengetahuan baru yang dapat mengadopsi teknologi modern, seperti digitalisasi akuakultur. Ini membantu meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Sakti Wahyu Trenggono mengajak Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad dan sejumlah figur publik meninjau lokasi modeling budidaya ikan nila salin (BINS) di Karawang, Jawa Barat, Minggu (2/11), sebagai upaya menarik minat generasi muda terhadap sektor perikanan budidaya.
Dalam kunjungan tersebut, Raffi Ahmad hadir bersama Ariel Noah, Gading Marten, dan Desta yang tergabung dalam kelompok The Dudas-1, demikian KKP dalam keterangan persnya.
Mereka diajak melihat langsung sistem budidaya nila salin modern yang dikembangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai bagian dari transformasi tambak tradisional menjadi tambak modern berorientasi ekspor.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Budidaya ikan bukan hanya tentang produksi, tetapi juga masa depan pangan nasional, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan. Dengan teknologi yang tepat, tambak dapat menjadi sumber ekonomi yang berkelanjutan,” kata Trenggono.
Ia menambahkan keterlibatan figur publik diharapkan dapat menjadi jembatan untuk mengenalkan konsep ekonomi biru dan budidaya ikan modern kepada generasi muda.
Menurutnya, cara-cara kreatif seperti ini sangat efektif untuk menggugah minat masyarakat terhadap sektor perikanan yang kini semakin modern dan menjanjikan.
Sebaiknya Anda baca juga:
BINS Karawang dibangun di atas lahan seluas 230 hektare yang dilengkapi dengan infrastruktur pendukung seperti intake air laut dan tawar, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), area pembesaran, serta fasilitas kawasan terpadu.
Dengan sistem pengelolaan terintegrasi, produktivitas tambak ditargetkan mencapai 84 ton per hektare per tahun dengan total produksi hingga 11.150 ton per tahun. Proyek ini juga diproyeksikan membuka lapangan kerja baru bagi sekitar 500 orang.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Tb Haeru Rahayu menjelaskan bahwa BINS Karawang dirancang untuk meningkatkan produktivitas tambak secara signifikan.
“Sebelumnya produktivitas hanya sekitar 0,6 ton per hektare per siklus, kini bisa mencapai 80 ton,” katanya.
Ia menjelaskan ikan nila salin yang masuk dalam jenis tilapia itu dipilih karena mampu hidup di air payau dengan kadar garam hingga 20 ppt, memiliki pertumbuhan cepat, tahan terhadap penyakit, dan memiliki pasar yang luas baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Data KKP menyebutkan permintaan global ikan tilapia mencapai 7,84 juta ton pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi 8,9 juta ton pada 2030. Di dalam negeri, permintaan juga terus meningkat dan diperkirakan menembus 2,36 juta ton pada 2030.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!