Bill Gates: Perubahan Iklim Tidak akan Mengakhiri Peradaban

Kamis, 30 Okt 2025, 01:00 WIB

WASHINGTON DC – Perubahan iklim “tidak akan menyebabkan kehancuran umat manusia”, kata miliarder filantropis Bill Gates dalam sebuah memo panjang di mana ia berpendapat bahwa penanganan penyakit global dan kemiskinan akan membantu mempersiapkan masyarakat termiskin di dunia menghadapi kondisi bumi yang semakin hangat.

Pernyataan pendiri Microsoft berusia 70 tahun itu dipandang sebagai perubahan arah, mengingat Gates selama ini dikenal sebagai pendukung utama teknologi hijau melalui organisasinya, Breakthrough Energy. Memo tersebut juga dirilis beberapa hari sebelum konferensi iklim COP30di Brasil yang kepemimpinannya dipuji Gates karena menempatkan adaptasi iklim dan pembangunan manusia sebagai prioritas utama.

Ket. Foto: Miliarder filantropis, Bill Gates. — Sumber: SAUL LOEB/AFP

Gates mengakui bahwa para pengkritiknya mungkin menuduhnya munafik karena jejak karbon pribadinya yang besar, atau menilai bahwa memo tersebut merupakan “cara halus untuk berargumen bahwa kita tidak perlu terlalu serius terhadap perubahan iklim”.

Namun, ia menegaskan bahwa meskipun perubahan iklim akan membawa dampak yang “serius”, manusia tetap akan mampu hidup dan berkembang di sebagian besar wilayah bumi “dalam waktu yang dapat diperkirakan”.

Dalam memonya, Gates menguraikan “tiga kenyataan sulit tentang iklim”; yaitu perubahan iklim tidak akan mengakhiri peradaban manusia, pembatasan kenaikan suhu bukanlah satu-satunya ukuran kemajuan, dan kesehatan dan kemakmuran merupakan pertahanan paling kuat terhadap destabilisasi iklim.

Ia juga menyoroti kemajuan signifikan dalam upaya pengurangan emisi sejauh ini, serta menyatakan optimisme bahwa inovasi teknologi di masa depan akan membuka jalan bagi solusi yang lebih efektif.

Meski planet ini berada pada jalur yang berbahaya dan jauh dari target Perjanjian Paris untuk membatasi pemanasan global jangka panjang hingga 1,5 derajat Celsius, Gates berpendapat bahwa alih-alih terobsesi pada angka tersebut, dunia seharusnya memperkuat ketahanan terhadap dampak perubahan iklim.

Ia menambahkan, bagi sebagian besar masyarakat miskin di dunia, kemiskinan dan penyakit masih menjadi masalah yang lebih mendesak dibandingkan perubahan iklim.

“Tujuan utama kita seharusnya adalah mencegah penderitaan, terutama bagi mereka yang hidup dalam kondisi paling sulit di negara-negara termiskin di dunia,” kata Gates.

Hal itu berarti, misalnya, mengurangi fokus pada upaya membatasi hari-hari yang sangat panas atau sangat dingin, dan lebih menekankan pada bagaimana lebih sedikit orang hidup dalam kemiskinan dan kondisi kesehatan buruk, sehingga cuaca ekstrem tidak menjadi ancaman besar bagi mereka.

Pemanasan Global

Melihat ke depan, Gates mengatakan strategi utama dalam menghadapi perubahan iklim adalah mengurangi apa yang disebut sebagai ‘green premium’ — yakni selisih biaya antara cara ramah lingkungan dan cara konvensional yang mencemari hingga mencapai nol, terutama untuk material seperti semen, baja, dan bahan bakar pesawat.

Ia membandingkan memo tersebut dengan tulisan yang ia buat di Microsoft 30 tahun lalu, yang mendorong perusahaan menempatkan internet sebagai inti dari seluruh aktivitas bisnisnya.

Demikian pula, kata Gates, komunitas iklim membutuhkan “perubahan arah strategis” pada konferensi COP30 dan seterusnya.

“Prioritaskan hal-hal yang memberikan dampak terbesar bagi kesejahteraan manusia,” ujarnya.

Namun, sejumlah pengkritik menilai esai Gates kurang substansi dan menciptakan pilihan palsu antara aksi iklim dan pengurangan penderitaan manusia.

“Gates telah membangun kerangka berpikir keliru yang mempertentangkan peningkatan kesejahteraan dengan target ilmiah suhu dan emisi. Padahal keduanya sangat saling berkaitan,” kata Dr. Rachel Cleetus dari Union of Concerned Scientists kepada AFP.

“Pemanasan global secara langsung melemahkan upaya pengentasan kemiskinan dan tujuan pembangunan manusia di seluruh dunia. Badai Melissa, badai dahsyat yang diperparah oleh perubahan iklim, hanyalah contoh terbaru dari konsekuensi mematikan dan mahal perubahan iklim bagi negara-negara yang sudah berjuang menghadapi tantangan kemanusiaan yang kompleks,” ujarnya.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.