Kopi Liberika, Jejak Baru Kehidupan di Tepian Hutan Lindung Kaltim
Kamis, 02 Jul 2026, 22:15 WIBSAMARINDA â Di tepian hutan lindung Desa Suka Rahmat, Kabupaten Kutai Timur, bentang alam yang selama ini dipandang sebagai kawasan konservasi kini menghadirkan harapan baru bagi masyarakat.
Melalui inisiatif Kelompok Tani Hutan (KTH), kawasan penyangga hutan disulap menjadi kebun kopi liberika yang tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga membuka sumber penghidupan baru bagi warga.
Langkah ini menunjukkan bahwa konservasi dan pemberdayaan ekonomi dapat berjalan beriringan ketika dikelola secara berkelanjutan.
Pemilihan kopi liberika bukan tanpa alasan. Selain adaptif terhadap kondisi lahan setempat, komoditas ini memiliki nilai ekonomi yang terus meningkat dan peluang pasar yang menjanjikan.
Bagi masyarakat Desa Suka Rahmat, setiap pohon kopi yang tumbuh menjadi simbol perubahan, dari ketergantungan pada pemanfaatan sumber daya alam yang terbatas menuju pengelolaan hutan yang produktif dan bernilai tambah.
Lebih dari sekadar menghasilkan biji kopi, kebun liberika menjadi fondasi lahirnya identitas baru desa sebagai sentra perkebunan berbasis kehutanan sosial.
Jika terus didukung melalui peningkatan kualitas budidaya, pengolahan pascapanen, dan akses pasar, kopi liberika berpotensi berkembang menjadi produk unggulan Kutai Timur yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat komitmen menjaga kelestarian hutan.
"Kami memilih menanam kopi dibandingkan sawit agar pelestarian kebun beriringan dengan upaya menjaga ketahanan lingkungan dari metode agroforestri," kata Ketua KTH Agrowisata Goa Taman Buah Mandiri, Desa Suka Rahmat, Ruslan saat dihubungi di Samarinda, Kamis (2/7).
Langkah pelestarian ekosistem ini difasilitasi oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Santan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur. Kelompok tani tersebut telah memiliki izin legal pengelolaan perhutanan sosial dengan jangka waktu 35 tahun sejak 2023.
Pemanfaatan lahan seluas 25 hektare tersebut tidak hanya memberikan dampak ekonomi dari panen biji kopi. Bunga dari ribuan pohon kopi itu turut dimanfaatkan sebagai pakan alami lebah kelulut.
"Kopi bubuk kami saat ini telah dipasarkan secara komersial kepada masyarakat dengan harga sekitar Rp30.000 per kemasan," tutur Ruslan menjelaskan.
Madu kelulut yang dihasilkan kemudian dikonsumsi oleh anggota kelompok tani sebagai suplemen kesehatan harian.
Keberhasilan tata kelola perhutanan sosial yang berkelanjutan ini juga menarik perhatian khalayak luas.
"Banyak masyarakat sekitar yang kini berkunjung ke desa kami untuk meniru pengembangan budi daya ini," ucap Ruslan.
Budi daya tanaman kopi di dalam kawasan lindung tersebut sejatinya telah dirintis oleh petani sejak 2007.
Saat ini kawasan agrowisata tersebut telah ditumbuhi sekitar 14.000 pokok tanaman kopi penghasil biji bermutu.
Kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah daerah terus menjaga keberlangsungan produk lokal unggulan ini. Komitmen semua pihak dibutuhkan agar kopi liberika Suka Rahmat tetap kompetitif di pasar domestik maupun internasional.
Mengenai kualitas produk, salah seorang praktisi kopi Slamet Prayogo memuji mutu biji kopi hijau jenis liberika yang dipanen dari kebun ini berasal dari ceri kopi kualitas terbaik.
"Setelah melalui proses pengolahan yang tepat, kopi bubuk ini terbukti memiliki cita rasa nikmat sekali," kata Slamet.
- kaltim
- Kabupaten Kutai Timur
- kopi liberika
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Sika Resmikan Pro Center Kelima di Kelapa Gading, Perkuat Ekosistem Konstruksi Terintegrasi
-
Jumlah Warga Jakarta Bertambah Berdasarkan Hasil SUPAS 2025
-
Berpotensi Melemah Lanjutan, 6 Mei 2026
-
Pemprov DKI Imbau Warga Tak Pakai Plastik untuk Bungkus Hewan Kurban
-
Polres Pamekasan Kerahkan 220 Personel Amankan Perayaan Paskah di 7 Gereja
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.