BI Percaya Diri, Inflasi 2026–2027 Tetap Jinak di Kisaran Target
Rabu, 22 Apr 2026, 20:35 WIBJAKARTA â Stabilisasi inflasi merupakan kunci dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.
Ketika inflasi terkendali, pelaku usaha dapat merencanakan produksi dengan lebih pasti, sementara konsumen tidak menghadapi lonjakan harga yang menggerus pendapatan riil.
Oleh karena itu, pengendalian inflasi tidak hanya bergantung pada kebijakan moneter, tetapi juga koordinasi erat dengan kebijakan fiskal dan pengelolaan pasokan, terutama untuk komoditas pangan yang bersifat volatil.
Dalam praktiknya, stabilisasi inflasi sering kali menghadapi tekanan dari faktor eksternal seperti harga energi global dan nilai tukar, serta faktor domestik seperti distribusi dan musim.
Karena itu, pendekatan yang efektif memerlukan kombinasi antara intervensi jangka pendekâseperti operasi pasar dan subsidiâdan langkah struktural jangka panjang, termasuk perbaikan rantai pasok dan peningkatan produktivitas.
Dengan demikian, stabilisasi inflasi bukan sekadar menjaga angka tetap rendah, tetapi memastikan keseimbangan antara harga yang stabil dan aktivitas ekonomi yang tetap tumbuh.
Keberhasilan upaya ini sangat menentukan tingkat kepercayaan pasar dan ketahanan ekonomi secara keseluruhan.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meyakini inflasi tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen berkat topangan konsistensi kebijakan moneter dalam menjaga inflasi serta berbagai kebijakan pemerintah dalam mengendalikan harga.
âBank Indonesia terus memperkuat sinergi dengan pemerintah dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat/ Daerah (TPIP/ TPID) melalui penguatan implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) guna menjaga inflasi tetap terkendali dalam sasarannya,â ucapnya dalam agenda Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan April 2026 yang diadakan secara virtual diikuti di Jakarta, Rabu (22/4).
Dalam kesempatan tersebut, Perry menyampaikan bahwa inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tetap terkendali.
Pada Maret 2026, inflasi IHK tercatat sebesar 3,48 persen, lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 4,76 persen year on year (yoy).
Inflasi inti menurun menjadi 2,52 persen yoy seiring tetap terjaganya ekspektasi inflasi sesuai dengan sasaran didukung konsistensi kebijakan moneter Bank Indonesia.
Begitu pula dengan inflasi kelompok volatile food (VF) yang juga turun menjadi 4,24 persen yoy, didukung oleh kecukupan pasokan komoditas pangan utama di tengah peningkatan permintaan pada periode perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri 1447 Hijriah.
Selanjutnya, inflasi kelompok administered prices (AP) menurun menjadi 6,08 persen yoy dari realisasi bulan sebelumnya sebesar 12,66 persen yoy seiring minimalnya kebijakan harga yang diatur pemerintah, serta berakhirnya faktor temporer base effect dari kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga pada Januari dan Februari 2025.
Karena itu, hingga saat ini pihaknya meyakini ke depan inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran yang telah ditentukan.
- Bank Indonesia (BI)
- inflasi
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
BI Pastikan Uang Digital Tidak Akan Gantikan Uang Tunai
-
JEF 2026 Dirancang BI DKI Jadi Ajang Perkuat Ekosistem Ekonomi Kreatif
-
KKI 2026 Catat Transaksi Rp177,21 Miliar, UMKM DKI Kuatkan Ekspor & Pembiayaan
-
Youth Today, Leaders Tomorrow: BI dan Pemprov DKI Bentuk 500 Pemimpin Muda Jakarta
-
30 UMKM Binaan BI DKI Mejeng di KKI 2026, Target Perluas Pasar & Akses Pembiayaan
-
Piala AFF 2026: Prediksi Line Up Timmas Indonesia vs Singapura, Wajib Menang, Herdman Siapkan Wajah Baru
-
Rhoma Irama Obati Kerinduan Fans Setelah 20 Tahun, Goyang Publik Malaysia di Latihan Pestapora
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.