Pemanasan Global Picu Perubahan Pola Hujan dan Salju Ekstrem

Selasa, 28 Okt 2025, 01:00 WIB

Jakarta - Pemanasan global semakin memperlihatkan dampak nyata terhadap sistem iklim dunia. Sebuah studi terbaru memberikan wawasan baru tentang bagaimana pemanasan global mengubah pola curah hujan dan hujan salju ekstrem di belahan bumi utara selama tujuh dekade terakhir.

Studi tersebut yang dipimpin oleh para peneliti dari Institut Ekologi dan Geografi Xinjiang (Xinjiang Institute of Ecology and Geography) di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (Chinese Academy of Sciences/CAS), telah dipublikasikan dalam jurnal Advances in Climate Change Research.

Ket. Foto: — Sumber: Sumber: Copernicus C3S/ECMWF, ERA5/KJ/ones/and

Seperti dikutip dari Antara pada Senin (27/10), menurut studi tersebut, pemanasan global mengubah distribusi presipitasi baik dalam bentuk padat maupun cair, yang menyebabkan perubahan intensitas serta frekuensi curah hujan dan salju ekstrem.

Dengan menggunakan data analisis ulang ERA5-Land yang mencakup periode 1950 hingga 2022, para peneliti melakukan analisis komprehensif terhadap tren jangka panjang, sensitivitas suhu serta mekanisme pendorong curah hujan dan salju ekstrem di seluruh belahan bumi utara.

Mereka menemukan selama tujuh dekade terakhir, curah hujan ekstrem meningkat dengan laju 0,269 mm per tahun, hampir sembilan kali lebih cepat daripada laju peningkatan hujan salju ekstrem, yaitu 0,029 mm per tahun.

Studi itu juga menunjukkan suhu yang lebih hangat terutama akan berkontribusi pada peningkatan curah hujan ekstrem, tetapi memberikan efek yang relatif kecil terhadap hujan salju ekstrem.

"Presipitasi ekstrem merupakan faktor penting dalam manajemen risiko. Wilayah lintang tengah sebaiknya memprioritaskan pengelolaan risiko banjir yang didorong oleh meningkatnya curah hujan, sementara wilayah lintang tinggi dan pegunungan perlu mengatasi risiko-risiko bahaya terkait dengan salju," tutur Li Yupeng, penulis pertama studi tersebut.

Li menyatakan studi tersebut memberikan wawasan untuk memahami pola presipitasi ekstrem global dan mendukung perancangan strategi adaptasi iklim serta pencegahan bencana yang spesifik untuk setiap wilayah.

Selain memicu banjir dan longsor, perubahan ini juga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi, termasuk sektor pertanian, energi, dan logistik di negara-negara industri. Beberapa analis memperingatkan bahwa ketidakpastian iklim dapat meningkatkan risiko inflasi global akibat gangguan rantai pasok pangan dan energi.

Lembaga Meteorologi Dunia (WMO) menegaskan pentingnya kebijakan mitigasi dan adaptasi iklim yang lebih ambisius untuk menekan dampak pemanasan global. “Tanpa upaya serius menurunkan emisi karbon, cuaca ekstrem akan menjadi ‘kenormalan baru’ di belahan bumi utara,” demikian pernyataan resmi lembaga tersebut.

Di bagian selatan, perairan laut di sekitar Selandia Baru mengalami pemanasan 34 persen lebih cepat dibandingkan rata-rata global, mengancam infrastruktur pesisir dan ekosistem negara kepulauan Pasifik tersebut, tulis laporan Kementerian Lingkungan Hidup Selandia Baru.

“Laju pemanasan perairan laut di sekitar Selandia Baru terus meningkat dan kini 34 persen lebih cepat dari rata-rata global… Lautan Selandia Baru memanas lebih cepat akibat perubahan sirkulasi atmosfer dan perubahan arus laut yang menyertainya,” demikian isi laporan berjudul Our Marine Environment 2025 tersebut.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.