Maluku Genjot 5.000 Hektare Kakao, Siap Jadi Primadona Baru Ekspor Daerah
Selasa, 28 Okt 2025, 21:40 WIBAMBON â Pengembangan lahan memiliki peran yang sangat penting dan krusial dalam produksi kakao, karena secara langsung memengaruhi kuantitas dan kualitas hasil panen.
Tanpa perencanaan dan pengelolaan lahan yang tepat, produksi kakao tidak akan optimal dan bahkan dapat merusak lingkungan.
Pengembangan lahan yang baik dimulai dengan evaluasi kesesuaian lahan. Evaluasi ini memastikan bahwa kakao ditanam di lokasi yang tepat dengan kondisi tanah, iklim, dan agroklimat yang sesuai.
Pemerintah Provinsi Maluku melakukan pengembangan lahan seluas 5.000 hektare untuk komoditas kakao sebagai salah satu upaya menjadikannya produk unggulan daerah.
Wakil Gubernur Maluku, Abdullah Vanath di Ambon, Selasa (28/10), menegaskan pengembangan komoditas kakao merupakan bagian dari konsep pemberdayaan masyarakat yang diandalkan ke depan.
âPak Gubernur mengharapkan agar target pengembangan 5.000 hektare kakao dapat tercapai dalam periodisasi pertama ini,â ujar Abdullah Vanath.
Hal itu disampaikan saat kegiatan sosialisasi pengembangan sektor kakao yang di Pantai Gumumae, Maluku.
Menurut dia, untuk pengembangan 5.000 hektare kakao sebagai komoditas unggulan, maka dibutuhkan sosialisasi menyeluruh kepada masyarakat.
Pasalnya, kata dia, sosialisasi tersebut memiliki arti penting karena yang dibutuhkan saat ini adalah pergerakan nyata dalam mendorong potensi pertanian, khususnya kakao, sebagai komoditas unggulan daerah.
Lebih lanjut, Wakil Gubernur Vanath menekankan pentingnya peran aparatur pemerintah sebagai patron dan teladan bagi masyarakat dalam mendukung pengembangan sektor kakao.
âPegawai harus menjadi contoh dan penggerak di tengah masyarakat untuk memahami bahwa sektor kakao ini memiliki nilai strategis bagi peningkatan kesejahteraan,â katanya.
Ia juga berharap pengembangan kakao di Maluku dapat menumbuhkan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat setempat.
âDengan tumbuhnya sektor kakao, kita berharap ada geliat ekonomi baru yang memberi manfaat langsung bagi petani dan masyarakat lokal,â tutupnya.
Saat ini berdasarkan data, harga kakao terbaru di Maluku bervariasi di kisaran Rp28.000 per kilogram di beberapa daerah seperti Ternate, dengan fluktuasi harga yang terus terjadi tergantung permintaan pasar.
Di tingkat produsen, harga bisa lebih tinggi, seperti yang dilaporkan pada awal 2025 mencapai Rp80.000 per kilogram.
Oleh sebab itu dengan menjadikan kakao Maluku sebagai komoditas unggulan, dapat membuka peluang peningkatan perekonomian masyarakat sekitar khususnya para petani kakao di daerah itu.
Berita Terkait:
-
Asyik, MGI Hadirkan Layanan Shuttle Premium Jakarta–Bandung dengan Konsep Hospitality dan Fasilitas Lounge
-
Tingkatkan Layanan, Citilink Berhasil Reaktivasi Satu Armada Tambahan
-
Semifinal Indonesia Masters Ini Jadi Pengalaman Pertama Jafar/Felisha
-
Pulisic Bantu AC Milan Menangi Laga Derby, Roma Rebut Puncak Klasemen Serie A
-
Indonesia Gandeng Prancis, Petani Kakao Kecil Siap Naik Kelas!
-
Khamenei Peringatkan akan Terjadinya Perang Regional
-
Nusantara Lampung FC Targetkan Promosi ke Liga 2
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.