Opsi Penggunaan 'Drone' Kargo untuk Misi Kemanusiaan Dikaji Basarnas
📅 Senin, 20 Okt 2025, 17:16 WIB | Oleh: Opik
Doc: ANTARA/Fathnur Rohman
MAJALENGKA - Badan SAR Nasional (Basarnas) mengkaji opsi penggunaan drone kargo elektrik berteknologi tinggi untuk mendukung misi kemanusiaan, terutama dalam operasi pencarian dan pertolongan di wilayah terpencil atau lokasi bencana.
Direktur Sarana dan Prasarana Basarnas Alkaf Widija mengatakan uji coba penerbangan drone listrik di Bandara Kertajati, menjadi langkah awal untuk menilai kemampuan teknologi tersebut dalam membantu operasi penyelamatan.
“Untuk ke depannya, ini bisa menjadi salah satu pilihan dalam mendukung misi kemanusiaan,” kata dia di Bandara Kertajati Majalengka, Jabar, Senin (20/10).
Ia mengatakan pesawat tanpa awak yang diuji coba kali ini memiliki kapasitas angkut hingga 150 kg serta dirancang dengan sistem lepas landas dan mendarat secara vertikal (VTOL).
Dia menjelaskan kemampuan itu memungkinkan drone membawa logistik atau obat-obatan ke lokasi bencana dengan akses sulit dijangkau.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Misalnya ada korban jatuh di gunung, drone bisa mengirimkan obat-obatan agar mereka bisa bertahan hidup sambil menunggu tim SAR datang,” ujarnya.
Ia mengatakan penggunaan drone dalam operasi SAR bukan hal baru bagi Basarnas.
Namun, teknologi yang diperkenalkan kali ini memiliki tingkat kecanggihan yang jauh lebih tinggi.
Basarnas sedang menunggu informasi lebih lanjut mengenai implementasi drone serupa di Tiongkok yang disebut sudah digunakan untuk mengangkut orang dalam operasi penyelamatan.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Saat ini Basarnas juga punya drone, tetapi teknologi yang ini sudah cukup maju dibandingkan yang existing. Tantangannya tentu banyak, apalagi ini sistem fixed wing dengan VTOL,” katanya.
Meski masih dalam tahap kajian, Basarnas menilai, potensi pemanfaatan drone listrik cukup besar, terutama untuk pengiriman logistik ke daerah rawan bencana dan terpencil.
Direktur Utama PT Mimpi Terbang Indonesia (Dreamfly Indonesia) Daniel Tan menjelaskan uji coba di Bandara Kertajati merupakan hasil kolaborasi dengan perusahaan teknologi asal Tiongkok yakni Tsingfly (spin-off dari Universitas Tsinghua).
Ia mengatakan pesawat tanpa awak ini dirancang dengan sistem pengembangan perangkat lunak, berbasis kecerdasan buatan (AI).
“AI dan perangkat lunaknya dikembangkan oleh Universitas Tsinghua, salah satu yang terbaik di dunia. Hardware bisa dibuat banyak pihak, tapi software seperti ini sulit ditiru,” katanya.
Ia menilai potensi pasar drone angkut di Indonesia besar, mengingat kondisi geografis yang sekitar 17 ribu pulau dengan biaya logistik tinggi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!