Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Langkah Menkeu Tekan Utang Jadi Daya Tarik Investasi di Indonesia

📅 Jumat, 17 Okt 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Langkah Menkeu Tekan Utang Jadi Daya Tarik Investasi di Indonesia Doc: ANTARA/Dhemas Reviyanto
Ket. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan paparan pada forum 1 Tahun Prabowo–Gibran: Optimism on 8% Economic Growth di Jakarta, Kamis (16/10). Acara tersebut digelar sebagai wadah diskusi strategis untuk menelaah capaian, tantangan, dan langkah konkret menuju target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada 2029.

JAKARTA - Reli harga Surat Utang Negara (SUN) terus berlanjut di tengah strategi Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa melakukan efisiensi dan pengalihan anggaran belanja negara yang tidak terserap sesuai rencana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Purbaya yang mengaku tidak suka banyak utang dalam mengelola anggaran merasa senang dengan capaian yield (imbal hasil) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang turun dari 6,97 persen menjadi 6,09 persen.

Efisiensi juga papar Menkeu dapat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah utang negara dari target semula. Hal itulah yang mendorong harga SUN untuk terus melejit di pasar.

“Bisa juga saya pakai untuk mengurangi utang saya, mengurangi penerbitan SBN,” kata Purbaya.

Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunandi Brata, menilai langkah Menkeu Purbaya untuk menekan penggunaan utang negara merupakan sinyal positif bagi kredibilitas fiskal dan daya tarik investasi Indonesia.

Menurutnya, efisiensi penggunaan utang penting dilakukan untuk dua tujuan utama, menekan kebutuhan utang baru dan meningkatkan produktivitas pemanfaatan utang. Dengan demikian, rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) akan menurun secara alamiah, baik karena total utang yang terkendali maupun karena pertumbuhan ekonomi yang sehat.

“Jika ekonomi tumbuh dengan baik dan pengelolaan utang terkendali, Indonesia akan semakin menarik bagi investor tanpa perlu strategi ‘jual murah’ seperti pemberian insentif pajak berlebihan,” kata Aloysius, Kamis (16/10).

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa langkah tersebut hanya akan efektif bila disertai pembenahan serius terhadap ketidaktepatan dan pemborosan dalam belanja negara. Tantangan terbesar, menurutnya, justru datang dari birokrasi dan kelompok-kelompok yang selama ini diuntungkan oleh praktik penggunaan utang secara tidak disiplin.

“Langkah tegas harus diambil, misalnya menolak penggunaan APBN untuk menutup kewajiban proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung. Jika itu dibebankan pada APBN, maka hanya akan memunculkan kebutuhan berutang baru dalam skala besar,” kata Aloysius.

Aloysius juga menilai pentingnya mendorong reformasi pajak agar kebijakan fiskal semakin kredibel. Pemerintah, katanya, harus serius menindak penunggak pajak tanpa tebang pilih. Selain itu, aparat pajak perlu bertindak hati-hati agar tidak menimbulkan kontroversi yang dapat merusak kepercayaan publik.

“Jika Pemerintah berhasil membereskan kebocoran pajak dan menunjukkan integritas, maka kesadaran publik untuk membayar pajak akan meningkat. Itu akan memperkuat kemampuan negara membiayai pembangunan tanpa harus menambah utang,” tegasnya.

Patut Diapresiasi

Sementara itu, pengamat kebijakan publik Fitra, Badiul Hadi mengatakan, pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang tidak suka banyak utang patut diapresiasi, tetapi juga perlu diuji secara faktual. Sebab, di balik retorika efisiensi dan penurunan yield SBN, kenyataannya utang negara masih terus menanjak, baik dari sisi pokok maupun biaya bunganya.

Per September 2025, posisi utang pemerintah sudah mencapai 9.000 triliun rupiah, naik signifikan dibandingkan awal 2020 yang masih di dikisaran 6.000 triliun rupiah. Menkeu katanya sah saja berbangga diri dengan penurunan yield SBN dari 6,97 persen menjadi 6,09 persen. Namun penurunan itu, klaimnya lebih banyak ditopang faktor eksternal diataranya sentimen global, kebijakan The Fed yang longgar, dan stabilitas politik domestik, ketimbang hasil langsung dari kebijakan efisiensi APBN.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Keren, Unika Atma Jaya Masuk Top 100 Dunia WURI 2026

1.5 jam yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Megapolitan
Mau Tawuran, Dua Pemuda Baw...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.