Jakarta Dibilang Bahagia oleh Time Out, Beneran atau Cuma Foto Senyum?

Senin, 13 Okt 2025, 18:15 WIB

JAKARTA - Hasil survei internasional Time Out baru-baru ini menempatkan Jakarta di posisi ke-18 sebagai kota paling bahagia di dunia tahun 2025. Pencapaian ini tentu mengejutkan banyak pihak, mengingat citra Jakarta selama ini lekat dengan kemacetan, banjir, dan tekanan hidup yang tinggi.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menilai hasil survei tersebut sejalan dengan visinya sejak awal menjabat untuk menjadikan Jakarta kota yang aman, nyaman, dan bahagia. Menurutnya, kebahagiaan warga tidak hanya dilihat dari aspek fisik, tetapi juga dari suasana batin dan semangat kebersamaan yang terus tumbuh.

Ket. Foto: Pemandangan gedung pencakar langit di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan — Sumber: Koran Jakarta/Paundra Zakirulloh

“Yang seperti saya lakukan berulang kali, saya memang ingin Jakarta itu menjadi aman, nyaman, bahagia,” kata Pramono di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Senin (13/10/2025).

Meski begitu, Pramono juga sempat berkelakar bahwa hasil survei itu mungkin saja dipengaruhi oleh karakter dirinya yang dikenal ceria. Ia menambahkan dengan nada ringan, suasana positif dari pemimpin bisa menular kepada masyarakat.

“Saya nggak tahu, mungkin yang survei Time Out itu tahu gubernurnya suka bahagia sehingga surveinya menjadi bahagia,” ujarnya sambil tersenyum.

Namun, di luar gurauan tersebut, pertanyaan besar tetap muncul: apakah Jakarta benar-benar pantas disebut kota bahagia? Jika menilik keseharian warga, berbagai masalah klasik masih menjadi tantangan. Mulai dari kemacetan panjang di jam sibuk, harga hunian yang terus melambung, hingga minimnya ruang hijau di tengah padatnya beton kota.

Dalam konteks global, Jakarta memang menunjukkan perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah gencar menata transportasi publik, memperluas jalur pejalan kaki, hingga menggelar berbagai kegiatan publik seperti car free day dan festival olahraga. Semua ini menjadi indikator meningkatnya ruang interaksi sosial warga kota.

Pramono menilai kebangkitan Jakarta setelah melewati berbagai dinamika merupakan wujud nyata dari semangat gotong royong. Ia menyebut peringkat ke-18 ini bukan hanya soal statistik, tetapi tentang bagaimana warga mampu bertahan dan kembali bangkit setelah berbagai cobaan.

“Ini menunjukkan bahwa kebersamaan dan gotong royong itu kata kunci. Walaupun kemarin kita ada musibah, tapi sekarang hampir semua kehidupan masyarakat sudah berjalan normal,” ucapnya.

Secara sosiologis, kebahagiaan di kota besar seperti Jakarta bisa dimaknai berbeda. Bagi sebagian orang, kebahagiaan mungkin hadir dari rasa aman, kesempatan kerja, atau kemudahan akses fasilitas publik. Namun, bagi yang lain, tekanan hidup di kota megapolitan justru menjadi sumber stres yang terus berulang setiap hari.

Menariknya, aktivitas publik yang meningkat belakangan ini menjadi salah satu sinyal positif. Car free day, kegiatan maraton, hingga festival musik dan budaya kerap dipenuhi warga yang ingin melepas penat. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat Jakarta mulai mencari cara baru untuk menemukan kebahagiaan di tengah rutinitas padat.

“Setelah rusuh itu, dua minggu berturut-turut saya ikut car free day. Saya kaget, selalu ada tiga atau empat kegiatan lari, half marathon 5K, 10K, terus-menurus. Ini menunjukkan masyarakatnya pengin bahagia, termasuk kalian semua,” ungkap Pramono.

Jika dibandingkan dengan kota lain dalam survei Time Out seperti Abu Dhabi, Cape Town, atau Melbourne, Jakarta masih punya banyak pekerjaan rumah. Infrastruktur, kualitas udara, dan tata kota masih jauh dari ideal. Namun, dalam konteks budaya dan semangat hidup, warga Jakarta memiliki keunikan tersendiri: daya tahan dan kemampuan untuk tetap tertawa meski hidup di bawah tekanan.

Jakarta memang bukan kota yang sempurna, tetapi mungkin di situlah letak paradoks kebahagiaannya. Di tengah hiruk-pikuk dan ketidakpastian, warga justru menemukan cara untuk bertahan, beradaptasi, dan bersyukur. Hal ini mungkin menjadi alasan mengapa survei internasional menilai Jakarta pantas masuk jajaran kota paling bahagia di dunia.

Pada akhirnya, kebahagiaan bukan soal seberapa ideal kondisi kota, melainkan seberapa kuat masyarakatnya menciptakan ruang bahagia di tengah kesulitan. Jakarta masih penuh kekurangan, tapi juga penuh kehidupan. Sebuah kota yang tidak selalu tenang, namun tetap membuat warganya tersenyum di tengah kemacetan dan panas terik ibu kota.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.