Presiden Trump Surati Thailand untuk Akhiri Konflik Perbatasan dengan Kamboja
📅 Jumat, 10 Okt 2025, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
BANGKOK - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, pada Kamis (9/10) mengirim surat kepada Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, dimana ia mengatakan ingin melihat negara itu dan negara tetangganya, Kamboja, menyelesaikan ketegangan perbatasan yang kian memanas.
Pernyataan itu muncul sehari setelah PM Anutin Charnvirakul tampaknya menepis peran Trump yang sedang mengejar anugerah Nobel Perdamaian, dalam negosiasi lanjutan antara kedua negara yang bertujuan menyelesaikan sengketa perbatasan mereka.
Ketegangan teritorial meletus pada Juli lalu hingga menjadi bentrokan militer paling mematikan antara Kamboja dan Thailand dalam beberapa dekade, menewaskan lebih dari 40 orang dan memaksa sekitar 300.000 orang meninggalkan rumah mereka.
Kedua belah pihak sepakat untuk melakukan gencatan senjata, yang ditengahi sebagian oleh Trump, setelah lima hari pertempuran dan sejak itu kedua negara berulang kali saling menuduh telah melanggar gencatan senjata.
Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, kemudian mengatakan bahwa ia menominasikan presiden AS untuk anugerah Nobel Perdamaian, memberinya penghargaan atas diplomasi inovatif yang mengakhiri bentrokan militer.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Presiden Trump telah mengirimkan surat kepada saya yang menyatakan keinginannya untuk melihat kedua negara, Thailand dan Kamboja, berunding guna menemukan solusi atas konflik ini," ujar PM Anutin kepada wartawan di Bangkok pada Kamis.
"Saya akan membalasnya dengan menjelaskan posisi kami dan jika Kamboja menuruti mereka, Thailand siap mengikuti prosesnya," kata PM Anutin.
Ia pun mengatakan bahwa Thailand siap bernegosiasi jika Kamboja menarik senjata berat dari daerah perbatasan, menyingkirkan ranjau darat, menindak tegas sarang penipu internet, dan merelokasi warganya dari wilayah perbatasan yang dianggap Thailand sebagai miliknya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kamboja mengatakan warga negaranya telah tinggal di desa-desa perbatasan yang disengketakan selama beberapa dekade.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!