Dekarbonisasi Bukan Ancaman! Kadin Sebut Empat Area Penting yang Bisa Jadi Tambang Cuan Swasta
📅 Jumat, 10 Okt 2025, 20:57 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Istimewa.
JAKARTA – Peluang dekarbonisasi kini semakin terbuka seiring meningkatnya komitmen global terhadap transisi energi bersih dan pengurangan emisi karbon.
Bagi Indonesia, langkah ini bukan sekadar tuntutan lingkungan, tapi juga peluang ekonomi baru. Investasi pada energi terbarukan, efisiensi energi, dan teknologi hijau berpotensi menciptakan lapangan kerja serta menarik aliran modal asing.
Selain itu, dekarbonisasi juga bisa memperkuat daya saing industri nasional di pasar ekspor yang mulai menerapkan standar hijau.
Tantangannya ada pada kesiapan infrastruktur, regulasi yang konsisten, dan koordinasi lintas sektor agar transformasi menuju ekonomi rendah karbon berjalan efektif dan inklusif.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengungkapkan sektor swasta dapat merebut peluang dekarbonisasi senilai 3,8 triliun dolar Amerika Serikat (AS) dengan memimpin empat area penting, yakni iklim, permodalan, pasar karbon, dan keterampilan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Untuk merebut peluang dekarbonisasi senilai 3,8 triliun dolar AS, sektor swasta Indonesia harus memimpin di empat bidang penting," ujar Anindya dalam Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025, di Jakarta, Jumat (10/10).
Area pertama, ujarnya lagi, adalah iklim. Net Zero Emission bisa dicapai bukan hanya lewat pengurangan emisi, tetapi juga lewat inovasi, investasi, dan penciptaan pasar.
"Kedua, permodalan. Kita harus memobilisasi pembiayaan ke dalam sektor energi terbarukan, mineral kritis, pengolahan sampah menjadi energi, dan peningkatan jaringan listrik," katanya pula.
Sebaiknya Anda baca juga:
Anindya menambahkan bahwa kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) dapat mengurangi risiko dalam area ini.
Ketiga adalah pasar karbon. Anindya menyebutkan Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pemimpin global dalam kredit berbasis alam dan pajak karbon. Kadin dan ASEAN Alliance on Carbon Markets (AACM) siap untuk memastikan integritas serta pasokan kredit tersebut.
Area penting terakhir adalah keterampilan. Anindya mengatakan, transisi ini akan menciptakan lapangan kerja, tetapi hanya jika bertindak sekarang untuk menyiapkan tenaga kerja. Hal itu berarti meningkatkan keterampilan, melatih ulang, dan membangun jalur talenta bagi industri hijau.
"Ini adalah peta jalannya. Peluangnya sudah jelas dan yang terpenting sekarang adalah pelaksanaannya," katanya.
Menurut dia, agenda pertumbuhan hijau bukan lagi sekadar bagaimana mencapai target iklim, namun tentang mengamankan masa depan ekonomi Indonesia, memastikan pertumbuhan yang kuat, berkelanjutan, dan inklusif.
Sebagai informasi, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani menyampaikan bahwa ISF 2025 sekaligus menegaskan komitmen Indonesia untuk merealisasikan Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!