Pekalongan, Kota Batik yang Melegenda Sejak Abad ke-19
📅 Jumat, 03 Okt 2025, 10:41 WIB | Oleh: Tim PenulisPemerintah Kota Pekalongan, dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional 2025 menggelar beberapa kegiatan yang penuh semangat, meski sederhana.
Tidak sekadar menggelar upacara, peringatan Hari Batik Nasional 2025 juga semakin semarak dengan aksi membatik di kain mori sepanjang 16 meter di Museum Batik Pekalongan. Peserta membatik tidak hanya diikuti oleh para pelajar, tetapi semua pengunjung bisa menorehkan canting ke kain mori.
Selain dengan mengenakan busana batik, kegiatan membatik ini menjadi sebuah simbol kecintaan dan kebanggaan masyarakat Pekalongan terhadap warisan budaya batik.
Promosi maupun mengikuti pameran pun terus digiatkan, seperti Pameran Inacraft di Jakarta dan kegiatan yang akan diselenggarakan di sejumlah sentra kampung batik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Upaya melestarikan batik khas itu juga diperlukan untuk memperkuat kegiatan sosialisasi dengan melibatkan organisasi perangkat daerah terkait, promosi, dan mata pelajaran batik bagi siswa.
Sekretaris Daerah Kota Pekalongan Nur Priyantomo mengatakan di era digital, sudah saatnya para pelaku batik memasarkan produk batik melalui daring (online).
"Sekarang pemasaran batik sudah bergeser dari transaksi tradisional menjadi digital marketing. Saya pastikan para UMKM batik masih eksis dan terus bertambah," katanya.
Batik Pekalongan kini juga semakin diminati oleh masyarakat mancanegara, seperti Italia (Eropa) dan Dubai (Timur Tengah). Isu perubahan iklim menjadi hal yang penting, sehingga masyarakat mancanegara lebih mencintai warna alam.
Oleh karena itu, kita yakin generasi muda siap untuk menggantikan pelaku batik yang sudah berusia tua. Sumber daya manusia untuk membatik memang asli dari Pekalongan.
Koleksi batik
Pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai warisan budaya tak benda adalah hasil dari usaha panjang untuk melestarikan dan mempromosikan batik di dunia internasional. Proses ini dimulai oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah Indonesia, perajin batik, dan masyarakat yang secara konsisten menjaga tradisi membatik.
UNESCO memberikan pengakuan tersebut dengan alasan bahwa batik merupakan teknik pewarnaan kain yang unik di mana proses pembuatannya memadukan seni, kerajinan, dan kearifan lokal. Selain itu, batik juga dianggap memiliki nilai filosofis yang mendalam, mencerminkan pandangan hidup masyarakat Indonesia.
Oleh karena itu, dalam peringatan Hari Batik Nasional 2025, bukan sekadar mengenang pengakuan UNESCO, tetapi juga mengingatkan masyarakat akan pentingnya melestarikan batik sebagai warisan budaya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!