Jagung 2025 Tak Sebanyak Tahun Lalu: Siap-siap Daging Ayam dan Telur Kian Mahal, Risiko Inflasi Jadi Dalih Buka Keran Impor
📅 Rabu, 01 Okt 2025, 17:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
JAKARTA – Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada Agustus 2025 tercatat menurun dibanding periode yang sama tahun lalu.
Penurunan produksi jagung ini memberi sinyal adanya tantangan di sisi produksi, baik karena faktor cuaca, biaya input, maupun distribusi.
Dampaknya bisa merembet ke harga pakan ternak hingga stabilitas pangan, mengingat jagung adalah komoditas strategis.
Kondisi ini jadi alarm agar produktivitas jagung dijaga lewat dukungan teknologi dan tata kelola rantai pasok yang lebih efisien.
Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada Agustus 2025 mencapai 1,39 juta ton.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Lebih rendah dibanding Agustus 2024 yang sebesar 1,52 juta ton," ujar Deputi Bidang Statistik Produksi M Habibullah di Jakarta, Rabu (1/10).
Berdasarkan hasil amatan kerangka sampel area (KSA) Agustus 2025, potensi produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen sepanjang September-November 2025 diperkirakan sebesar 3,83 juta ton.
Potensi produksi ini, mengalami penurunan sebesar 0,21 juta ton atau 5,14 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan demikian, total produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen sepanjang Januari-November 2025 diperkirakan mencapai 15,25 juta ton, atau mengalami peningkatan sebesar 1,19 juta ton atau 8,47 persen dibandingkan Januari-November 2024.
Lebih lanjut, luas panen berdasarkan hasil amatan KSA pada Agustus 2025 mencapai 0,23 juta hektare. Angka ini lebih rendah dibandingkan Agustus 2024 yang seluas 0,26 juta hektare.
Sementara itu, potensi luas panen jagung sepanjang September-November 2025 diperkirakan mencapai 0,61 juta hektare.
Potensi ini mengalami penurunan sebesar 0,02 juta hektare atau 2,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dengan demikian, total luas panen jagung sepanjang Januari hingga November 2025 diperkirakan seluas 2,59 juta hektare, atau mengalami peningkatan sebesar 0,20 juta hektare dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Angka potensi masih dapat berubah bergantung kondisi pertanaman sepanjang September. Misalnya, seperti ada organisme pengganggu tanaman OPT, banjir, kekeringan, waktu pelaksanaan dan pemetaan oleh petani, dan lain-lainnya," imbuh Habibullah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!