Pakar Unej Paparkan Faktor Pemicu Keracunan Massal MBG
📅 Minggu, 28 Sep 2025, 17:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
Jember, Jawa Timur - Ahli pangan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember (Unej) Dr Nurhayati memaparkan kemungkinan penyebab keracunan makanan siap saji dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah.
"Saya prihatin dengan maraknya kasus keracunan akibat pangan siap saji yang dialami pelajar dalam Program MBG di sejumlah daerah, termasuk di Kabupaten Jember," katanya di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Minggu (28/9).
Untuk itu, perlu ditelusuri apa, kenapa, dan bagaimana tentang keracunan pangan siap saji di sekolah-sekolah untuk mengkaji titik kritis penyebab keracunan tersebut.
Menurut dia, penyebab keracunan pangan siap saji bisa disebabkan paparan bahan kimia seperti residu pestisida atau toksin mikroba, dan keracunan akibat paparan mikroba.
"Pangan segar yang diolah tanpa melalui proses pencucian yang baik memungkinkan terjadinya kontaminasi bahan kimia maupun kontaminasi mikroba. Begitu pula proses memasak yang kurang cukup panas maka berpotensi tumbuhnya mikroba perusak maupun patogen," tuturnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia mengatakan bahan pangan yang rusak oleh mikroba bisa menimbulkan bau busuk dan dapat berbahaya jika mikrobanya menghasilkan toksin seperti enterotoksin, botulin, atau senyawa kimia seperti gas disulfide (H2S) yang dapat menyebabkan keracunan yang serius, dengan gejala mulai dari pusing dan mual hingga kerusakan paru-paru, kehilangan kesadaran, dan kematian.
"H₂S memiliki bau telur busuk yang menyengat dan beracun. Keberadaan sel mikroba hidup juga bisa menyebabkan penyakit seperti diare, tipus, kolera dan lainnya," katanya.
Contoh mikroba dari bakteri yang patogen di antaranya Salmonella spp., E. coli, Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, dan Listeria monocytogenes.
Sebaiknya Anda baca juga:
Nurhayati yang juga Ketua Kelompok Riset Pangan ASUH Unej itu mengatakan beberapa hal yang bisa menjadi sumber terjadinya keracunan yang perlu diwaspadai yakni bahan-alat yang tidak dicuci bersih dan dijaga higienitasnya dapat menyebabkan risiko kontaminasi bakteri atau sumber penularan mikroba seperti Escherichia coli penyebab diare atau Salmonella sp penyebab tipus.
"Kemudian proses memasak makanan yang tidak matang sempurna bisa menjadi sumber bakteri patogen masih hidup terutama pangan kaya protein seperti daging dan ikan," tuturnya.
Namun, panas berlebih selama memasak juga harus dipertimbangkan agar tidak hilang nutrisinya terutama yang larut air dan mudah rusak seperti vitamin C.
"Penyimpanan sebelum penyajian yang dilakukan pada suhu ruang 5-60 derajat Celcius adalah masuk ke dalam zona bahaya karena mikroba perusak maupun patogen berkembang pada suhu tersebut. Dalam artian kurang pendinginan untuk makanan dingin, atau kurang penghangatan untuk makanan panas," katanya.
Selain itu, lanjut dia, saat penyajian yang dilakukan pada kondisi terbuka terlalu lama akan memudahkan kontaminasi debu, serangga, maupun kontaminasi silang dari sentuhan tangan juga bisa menjadi penyebab keracunan.
"Peralatan saji seperti stainless stell lebih mudah menghantarkan panas untuk mendukung pertumbuhan mikroba kontaminasi yang ada. Terlebih penyajian dilakukan pas jadwal makan siang, sedangkan produk diolah pagi hari," ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!