Status Siaga, Aktivitas Gunung Merapi Meningkat, BNPB Minta Masyarakat Ikuti Informasi Lembaga Resmi
📅 Sabtu, 27 Sep 2025, 14:10 WIB | Oleh: Lili Lestari
Doc: BPPTKG
JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengumumkan para ahli teknologi kebencanaan geologi di Yogyakarta mendeteksi adanya peningkatan aktivitas kegempaan di Gunung Merapi yang saat ini berstatus pada Level III atau Siaga.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Sabtu (27/9), mengatakan bahwa kondisi tersebut sebagaimana laporan hasil analisa dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) di Yogyakarta.
Dalam laporan yang diterima BNPB itu menyatakan tercatat pada periode 19–25 September 2025 ada sebanyak 81 kali gempa vulkanik dangkal, 644 kali gempa fase banyak, 520 kali gempa guguran, serta sembilan kali gempa tektonik.
"Data kegempaan itu lebih tinggi dibandingkan pekan sebelumnya, menandakan adanya dinamika suplai magma di tubuh Merapi," kata dia.
Kendati demikian ia menyebut pemantauan deformasi menggunakan perangkat EDM dan GPS menunjukkan kondisi relatif stabil dengan perubahan jarak pengukuran yang sangat kecil.
Sebaiknya Anda baca juga:
BNPB dalam kondisi ini menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan, terutama menghadapi potensi awan panas guguran maupun lahar saat hujan.
Upaya mitigasi dapat dilakukan melalui koordinasi intensif antarinstansi untuk menyiapkan jalur evakuasi, pengungsian, logistik, dan masker.
Sementara bagi masyarakat diminta selalu mengikuti informasi resmi dari Pos Pengamatan Gunung Merapi, BPPTKG, BNPB, maupun BPBD, agar memperoleh arahan yang tepat dan tidak terpancing isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Adapun berdasarkan analisis BPPTKG, potensi bahaya Gunung Merapi saat ini meliputi guguran lava dan awan panas di sektor selatan–barat daya sejauh 5–7 kilometer, serta di sektor tenggara melalui alur Sungai Woro hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.
“Merapi masih erupsi efusif, tapi suplai magma terus berlangsung sehingga ancaman awan panas tetap ada,” kata Abdul Muhari.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!