Indonesia-UE Akhirnya Sepakati Perjanjian Perdagangan IEU-CEPA Setelah Hampir 10 Tahun Negosiasi
📅 Selasa, 23 Sep 2025, 11:47 WIB | Oleh: Lili Lestari
Doc: Kemenko Ekonomi
DENPASAR - Indonesia dan Uni Eropa sepakati perjanjian perdagangan pada hari Selasa (23/9) setelah hampir satu dekade negosiasi.
Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA) merupakan kesepakatan ketiga yang ditandatangani Brussels dengan negara-negara Asia Tenggara, setelah Singapura dan Vietnam.
Pakta tersebut ditandatangani oleh Komisaris Perdagangan Uni Eropa Maros Sefcovic dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Bali dan akan membuka investasi di sektor strategis seperti kendaraan listrik, elektronik, dan farmasi.
"Dengan menyelesaikan perjanjian ini, Uni Eropa dan Indonesia mengirimkan pesan yang kuat kepada dunia bahwa kami bersatu dalam komitmen kami untuk perdagangan internasional yang terbuka, berbasis aturan, dan saling menguntungkan," ujar Sefcovic setelah penandatanganan.
Secara keseluruhan, eksportir Uni Eropa akan menghemat sekitar 600 juta euro atau sekitar Rp11,7 miliar per tahun dalam bea masuk yang dibayarkan atas barang yang memasuki pasar Indonesia, dan produk-produk Eropa akan lebih terjangkau dan tersedia bagi konsumen Indonesia. Demikian kata Presiden Uni Eropa Ursula von der Leyen dalam sebuah pernyataan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Saat yang Tepat
Indonesia sejak 2016 telah berunding dengan Uni Eropa, namun negosiasi untuk kesepakatan perdagangan awalnya hanya mengalami sedikit kemajuan.
Isu-isu seperti minyak sawit dan deforestasi menjadi hambatan, tetapi kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump yang luas "menciptakan urgensi" untuk mempercepat kesepakatan, kata Deni Friawan, peneliti di Centre for Strategic and International Studies (CSIS).
Sebaiknya Anda baca juga:
Presiden Prabowo Subianto melakukan perjalanan ke Brussels pada bulan Juli dan bersama kepala Uni Eropa Ursula von der Leyen mengumumkan kedua belah pihak telah mencapai "kesepakatan politik" untuk menyelesaikan kesepakatan setelah 19 putaran negosiasi.
Airlangga mengatakan ketidakpastian yang disebabkan oleh "perang tarif dan proteksionisme" antara negara-negara besar mendorong kedua belah pihak "untuk mencari kepastian melalui perjanjian bilateral yang stabil".
Perjanjian tersebut diharapkan dapat "memitigasi risiko dari dampak perang tarif global", kata Airlangga kepada AFP dalam sebuah pernyataan.
"Penandatanganan ini datang di saat yang tepat. Penandatanganan ini difinalisasi karena perang tarif Donald Trump, dan kita perlu mencari pasar alternatif di Eropa, dan Eropa memiliki kepentingan yang sama, mereka membutuhkan pasar untuk ditembus," ujar Bhima Yudhistira Adhinegara, direktur eksekutif Pusat Studi Ekonomi dan Hukum, kepada AFP.
Sekitar 80 persen ekspor Indonesia ke UE akan bebas tarif setelah kesepakatan berlaku, kata Airlangga pada bulan Juni.
Diharapkan hal ini akan menguntungkan ekspor utama Indonesia ke Uni Eropa termasuk minyak kelapa sawit, alas kaki, tekstil dan perikanan, tambahnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!