Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

BGN Kenalkan Program MBG, Dinilai Mampu Bangkitkan Pertanian dan Ketahanan Pangan Daerah

📅 Kamis, 18 Sep 2025, 17:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
BGN Kenalkan Program MBG, Dinilai Mampu Bangkitkan Pertanian dan Ketahanan Pangan Daerah Doc: Antara
Ket. Kepala BGN Dadan Hindayana memaparkan capaian Program MBG dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui pertanian dan ketahanan pangan di daerah di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Kamis (18/9).

Jakarta - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyebut Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti membangkitkan pertanian hingga ketahanan pangan di berbagai daerah di Indonesia.

Menurut dia, bagi pemerintah daerah (pemda), Program MBG sangat menarik untuk memacu kemandirian perekonomian karena akan banyak uang dari pemerintah pusat yang turun ke daerah.

"Contohnya untuk Nusa Tenggara Timur (NTT), saya contohkan berkali-kali APBD-nya di provinsi hanya Rp4 triliun, nah, uang BGN yang akan turun ke NTT Itu Rp8 triliun, yang 85 persennya untuk membeli bahan baku pertanian," kata Dadan di Jakarta, Kamis (18/9).

Ia mencontohkan provinsi lain yakni Jawa Barat yang memiliki APBD provinsi sebesar Rp34 triliun, sedangkan BGN akan mengirimkan anggaran sebesar Rp50 triliun untuk provinsi tersebut.

"Jadi, jauh lebih besar uang BGN yang akan turun ke daerah, dan itu akan membangkitkan pertanian, kemandirian, serta ketahanan pangan. Contoh untuk makan lele saja, satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kalau melayani tiga ribu penerima manfaat itu butuh tiga ribu lele sekali makan, berapa kolam? Itu dua kolam bioflog," ujarnya.

Selain itu, di Pulau Sulawesi, kini semakin banyak rumah tangga yang berlomba-lomba menanam pisang atau mengelola kebun pisangnya untuk menyuplai MBG, yang sebelumnya hanya dikonsumsi sendiri atau bahkan masyarakat tidak mengetahui harus ke mana memasarkan pisang-pisang hasil pertanian mereka.

"Kalau kita memberi makan pisang saja, sekali makan pisang kan tiga ribu, berapa sisir? Itu 150 sisir, berapa tandan? Itu 15 tandan, identik dengan 15 pohon pisang. Kalau dua kali seminggu, butuh 30 pohon pisang, sebulan 120 pohon, jadi tidak heran kalau petani pisang di Sulawesi sekarang sudah turun ke kebun memelihara pisangnya yang selama ini tidak pernah dipelihara," tuturnya.

Melalui MBG, lanjut Dadan, ada potensi ekonomi yang luar biasa di daerah untuk dikelola oleh Koperasi Desa Merah Putih, Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), hingga UMKM dan para petani. Untuk itu, ia meminta para pemuda agar kembali ke desa untuk mengoptimalkan potensi tersebut.

"Jadi, sebetulnya kami harapkan dengan adanya program ini, para pemuda kembali ke desa, optimalkan daerah-daerah itu, optimalkan tanah-tanah yang menganggur tetapi cukup subur untuk diproduksi," kata Dadan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Tak Mau Ketinggalan, Warga Yunani Juga Berunjuk Rasa Beratnya Beban Hidup

Tak Mau Ketinggalan, Warga Yunani Juga Berunjuk Rasa Beratnya Beban Hidup

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.