Revolusi Asuransi: Klaim Bencana Dipangkas Jadi Hanya Hitungan Hari
Minggu, 14 Sep 2025, 20:40 WIBJAKARTA â Penyusunan sistem klaim yang jelas dan terukur dalam asuransi parametrik kebencanaan sangat penting untuk memastikan efektivitas perlindungan bagi masyarakat maupun pemerintah.
Berbeda dengan asuransi konvensional, mekanisme parametrik berbasis pada indikator tertentuâmisalnya intensitas gempa, curah hujan, atau kecepatan anginâyang secara otomatis memicu pembayaran klaim tanpa perlu verifikasi kerugian di lapangan.
Namun, tanpa sistem yang tertata rapi, risiko moral hazard, keterlambatan pencairan, atau salah sasaran penerima manfaat bisa terjadi.
Dengan sistem yang solid, mulai dari standar parameter, transparansi data, hingga prosedur distribusi klaim, asuransi parametrik tidak hanya dapat mempercepat pemulihan pascabencana, tetapi juga menjadi instrumen keuangan negara yang andal dalam menjaga ketahanan fiskal menghadapi risiko iklim dan geologi.
Pemerintah bersama perusahaan serta asosiasi penyedia asuransi dan reasuransi kini tengah menyusun sistem agar klaim asuransi parametrik kebencanaan berdasarkan curah hujan dan magnitudo gempa yang bisa dicairkan dalam waktu 7-14 hari.
Kepala Departemen Industry Research Indonesia Re Fiza Wira Atmaja menyatakan bahwa proses klaim asuransi parametrik berbeda dengan asuransi indemnity (ganti rugi), sehingga pembayaran klaim dapat dilakukan lebih cepat agar bisa digunakan sebagai sumber dana selama masa tanggap darurat.
"Kalau yang parametrik ini kebutuhannya bukan leveraging (peningkatan manfaat) ya, tapi kebutuhannya dana cepat. Jadi, bagaimana kami bisa menyusun sistem yang dapat mencairkan itu dalam waktu 7 sampai 14 hari," ujar Fiza dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Sabtu (13/9).
Ia menjelaskan pembayaran klaim asuransi indemnity berdasarkan rate tertentu, misalnya 0,05 persen untuk bencana banjir dan hingga 0,2 persen untuk gempa, sehingga penggantiannya dapat mencapai 500 hingga 2.000 kali dari harga premi.
Sementara, asuransi parametrik secara langsung membayar klaim berdasarkan parameter atau indikator tertentu, sehingga semakin tinggi curah hujan, maka nilai pembayaran klaimnya juga semakin besar.
Berdasarkan hal tersebut, Fiza mengatakan asuransi parametrik memiliki keunggulan dalam kecepatan pengurusan klaim karena tidak perlu melakukan proses assessment atau pendataan serta penilaian besarnya kerusakan dan kerugian yang diakibatkan oleh bencana.
Namun, ia menilai sistem tersebut pula yang menjadi kelemahan asuransi parametrik karena dapat menimbulkan basis risk, yaitu perbedaan nilai kerugian antara yang dibayarkan dengan yang kerugian sebenarnya.
Misalnya, nasabah di suatu daerah terkena banjir akibat curah hujan yang tinggi, tapi karena sistem drainase yang baik, banjir yang terjadi terlalu parah.
Namun, nasabah tersebut tetap akan mendapatkan nilai penggantian yang besar karena nilai penggantian berdasarkan tingkat curah hujan, meskipun kerugian yang diderita kecil karena banjir yang terjadi tidak parah.
"Kalau (asuransi) indemnity pasti sama (nilai penggantiannya) kan, karena di-assess nilainya (kerugian) sekian terus dibayarkan perusahaan asuransi (juga sama) sekian. Tapi, kalau parametrik kan ketika curah hujannya tinggi, kami bayar tinggi juga, tapi kan belum tentu di wilayah itu banjirnya juga tinggi (parah)," jelas Fiza.
- Bencana Alam
- asuransi parametrik
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
BPBD Magetan Melaporkan Sejumlah Bencana Alam Akibat Cuaca Ekstrem
-
McLaren Awali Musim F1 2026 dengan Pendekatan Bertahan, Stella Akui Ferrari dan Mercedes Unggul
-
Penyaluran Bantuan Logistik untuk Korban Angin Puting Beliung di Probolinggo
-
Pengecekan Legalitas 1.085 Batang Kayu Bulat di Sungai Kapuas
-
Proses Verifikasi Penerima Bantuan Rumah Rusak Berat di Sigi
-
Waspadai Longsor Susulan di Cisarua
-
Tercatat 50 Kejadian Bencana Alam di Wilayah Magetan Selama Januari 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.