Ekspor Jakarta Tumbuh 4 Persen Lebih

Selasa, 04 Agu 2026, 01:05 WIB

JAKARTA – Selama semester pertama ekspor Jakarta tumbuh 4 persen lebih dari tahun lalu. Selain itu, jumlah ekspor mampu mengeruk 8,5 juta dollar AS. “Peningkatan ekspor pada periode itu utamanya disebabkan ekspor nonmigas yang tumbuh sebesar 308 juta dolar AS, diikuti peningkatan ekspor migas sebesar 25,60 juta dollar AS,” tuturKepala BPS Jakarta, Kadarmanto, Senin.

Nilai ekspor migas terjadi kenaikan sebesar 165,7 persen. Sedangkan nonmigas meningkat 3,74 persen. Kemudian, berdasarkan sektor, peningkatan nilai ekspor nonmigas secara kumulatif terjadi di sektor industri pengolahan. Kadarmanto menyatakan sektor tersebut menjadi pendorong utama atas peningkatan kinerja ekspor sepanjang Januari-Juni, dengan andil ekspor sebesar 97,79 persen.

Ket. Foto: Kawasan Bundaran HI, Jakarta. — Sumber: Istimewa

Kinerja ekspor sejumlah produk unggulan Jakarta selama Januari hingga Juni, kata dia, salah satunya, kendaraan dan bagiannya. Setor ini naik sebesar 15,64 persen secara kumulatif. Selanjutnya, nilai ekspor logam mulia dan perhiasan permata naik 10,73 persen secara kumulatif.

Sementara itu, alas kaki justru turun 3,96 persen secara kumulatif. Lebih lanjut, Kadarmanto menyebutkan terdapat tiga besar negara tujuan utama ekspor Jakarta selama Januari hingga Juni. Ketiganya adalah Thailand, Amerika Serikat, dan Tiongkok. Nilai ekspor ketiga negara ini memberikan share yang cukup besar, 37,1 persen dari total ekspor Jakarta.

Dia merinci ekspor ke Thailand, misalnya, tercatat 1.301 juta dollar AS, yang didominasi komoditas logam mulia dan perhiasan atau permata. Kemudian, Amerika Serikat dengan nilai ekspor sebesar 1.012,7 juta dolar AS, didominasi oleh alas kaki, ikan, serta pakaian dan aksesorinya. Lalu, Tiongkok dengan total nilai ekspor sebesar 872,3 juta dolar AS, yang didominasi lemak dan minyak hewan nabati.

Inflasi

Pada bagian lain Kadarmanto menyampaikan, inflasi tahunan Jakarta Juli sebesar 2,5 persen. Ini didorong oleh kelompok transportasi yang mengalami inflasi sebesar 5,3 persen sehingga memberikan andil inflasi 0,71 persen. “Penyumbang utama inflasi bulan Juli secara tahunan adalah kelompok transportasi yang memberikan andil inflasi, utamanya dari bensin,” jelasnya.

Menurutnya, kelompok pengeluaran lainnya juga mengalami inflasi tahun ke tahun yang cukup tinggi, yakni perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kelompok ini tercatat mengalami inflasi sebesar 8,39 persen. Inflasi pada kelompok tersebut disumbang oleh emas perhiasan.

“Di awal-awal tahun ini, terjadi peningkatan emas, harga emas luar biasa, meskipun selama empat bulan terakhir ini terjadi penurunan harga komoditas emas,” ujar Kadarmanto.Sementara itu, komoditas penyumbang utama inflasi tahunan Juli 2026 adalah emas perhiasan. Ini diikuti bensin, tarif angkutan udara, beras, dan minyak goreng.

Deflasi

Meski secara tahunan hingga Juli terjadi inflasi, pada bulan Juli itu sendiri malah deflasi.Kadarmanto mengemukakan Jakarta secara bulanan mengalami deflasi sebesar 0,15 persen pada bulan Juli 2026. Deflasi disumbang utama kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 0,21 persen.

“Komoditas yang dominan mendorong deflasi pada kelompok ini adalah cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit,” jelasnya. Komoditas lainnya pada kelompok itu yang menyumbang deflasi adalah telur ayam ras dan daging ayam ras, jeruk, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, dan tomat.Sedangkan komoditas yang paling dominan memberi andil deflasi pada bulan Juli adalah emas perhiasan dengan andil sebesar 0,09 persen, diikuti tarif angkutan udara (0,09 persen), cabai merah (0,07 persen), bawang merah (0,06 persen), dan cabai rawit (0,03 persen).

Sepanjang tahun ini, komoditas emas perhiasan tercatat mengalami deflasi berturut-turut dalam empat bulan terakhir. Menurut Kadarmanto, fenomena tren penurunan harga emas perhiasan ini sejalan dengan pergerakan harga emas khususnya berupa logam mulia secara global.

Tren harga emas global mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini secara rata-rata harga emas perhiasan pada bulan Juli berada pada level Rp1.717.620 pergram.

Sementara itu, pada bulan Maret mencapai harga yang tertingginya, yaitu Rp1.942.052. Secara nasional juga mengalami deflasi secara bulanan pada bulan Juli sebesar 0,14 persen. 

  • Ekspor Jakarta

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka, Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.