Moneter Bukan Obat Segalanya, Krisis Rupiah Butuh Langkah Lebih Besar
Senin, 18 Mei 2026, 23:59 WIBJAKARTAâ Anggota Komisi XI DPR RI Muhammad Kholid menilai gejolak rupiah dan tekanan pasar keuangan tak bisa dijawab hanya lewat kebijakan moneter teknis.
Menurutnya, kunci utama justru ada pada kemampuan otoritas ekonomi membangun kepercayaan publik dan mengarahkan ekspektasi investor di tengah sentimen pasar yang fluktuatif.
Kholid mengatakan pasar keuangan bergerak cepat dan sangat dipengaruhi persepsi. Karena itu, komunikasi yang konsisten dari pemerintah, Bank Indonesia, OJK, dan otoritas fiskal penting agar pelaku pasar tidak berlebihan dalam menyikapi kondisi ekonomi nasional.
âYang dibutuhkan sekarang adalah strategic management of expectation. Bukan hanya kebijakan teknis, tapi manajemen ekspektasi harus diperkuat,â kata Kholid dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI bersama Gubernur BI di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin (18/5) dikutip dari laman resmi DPR RI.
Legislator Fraksi PKS itu menjelaskan, cara investor membaca ekonomi global kini berubah. Dulu pasar banyak melihat data historis, sekarang fokusnya ke risiko ke depan dan arah kebijakan pemerintah.
Ia menyinggung teori rational expectation dari ekonom Robert Lucas untuk menggambarkan pola tersebut. Menurut Kholid, investor, hedge fund, hingga pelaku industri sudah menghitung potensi risiko masa depan sebelum memutuskan investasi.
âPelaku pasar membuat _pricing_ secara rasional bukan berdasarkan data kemarin atau hari ini, tapi futurist pricing. Risiko-risiko di masa depan sudah dihitung dan ditarik ke harga saat ini,â tegasnya.
Kholid menilai tantangan terbesar pemerintah saat ini bukan sekadar menjaga stabilitas rupiah, tetapi juga menghilangkan persepsi bahwa Indonesia menuju krisis seperti 1998. Trauma kolektif itu, katanya, masih memengaruhi cara publik dan pasar membaca situasi ekonomi.
âPesan harus keras, jelas, dan konsisten. Kalau otoritas moneter, jasa keuangan, dan Kementerian Keuangan kompak serta diikuti kebijakan yang konsisten, itu memberi sinyal bahwa kondisi sekarang berbeda dengan 1998,â ujarnya.
Ia menambahkan, upaya menjaga rupiah harus dilakukan terukur agar tidak menghambat pertumbuhan ekonomi, terutama penyaluran kredit ke sektor produktif. Penyesuaian suku bunga, menurutnya, perlu dirumuskan cermat untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas makro dan kebutuhan dunia usaha.
Evaluasi Kebijakan
Anggota Komisi XI DPR RI Marwan Cik Asan mengapresiasi langkah BI dan pemerintah menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global. Ia menilai instrumen kebijakan yang dijalankan sejauh ini sudah berada di jalur yang tepat.
âKita harus terus mendukung langkah BI dan pemerintah. Tapi yang penting, kebijakan itu dievaluasi terus agar tetap efektif dan tidak mengganggu pertumbuhan,â kata Marwan.
Ia menjelaskan, tekanan pada rupiah tidak lepas dari faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga The Fed yang membuat aset dolar AS lebih menarik. Kondisi ini berdampak pada banyak negara, termasuk Indonesia.
Namun Marwan menekankan penguatan kepercayaan terhadap rupiah adalah tanggung jawab bersama. Stabilitas nilai tukar, katanya, tidak hanya bergantung pada kebijakan moneter, tapi juga optimisme masyarakat dan pelaku pasar terhadap fundamental ekonomi.
âKalau bukan kita yang menjaga rupiah, siapa lagi. Kepercayaan terhadap mata uang sendiri harus terus dibangun,â kata Politisi Fraksi Demokrat itu.
Marwan mengingatkan setiap kenaikan suku bunga punya dampak langsung ke sektor riil. Meski bisa membantu stabilisasi rupiah, suku bunga tinggi juga menaikkan beban pinjaman, terutama bagi UMKM yang sensitif terhadap biaya kredit.
âKalau suku bunga terlalu tinggi, akses pembiayaan UMKM terganggu. Padahal kita butuh sektor ini tumbuh dan menyerap tenaga kerja,â ujarnya.
Ia juga menekankan pertumbuhan ekonomi harus berkualitas, bukan hanya tinggi di angka. Pertumbuhan harus menciptakan lapangan kerja formal, menaikkan kesejahteraan, dan memperkuat daya beli.
Marwan menambahkan, pelemahan rupiah tidak selalu merugikan. Untuk komoditas ekspor seperti sawit, karet, jagung, dan singkong, depresiasi rupiah bisa menaikkan pendapatan petani. Namun pemerintah dan BI tetap harus menjaga agar dampak positif itu tidak diikuti kenaikan harga kebutuhan pokok.
Sementara itu, nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan, Senin (18/5), melemah jadi Rp17.668 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.597 per dolar AS.
Sepanjang 2026, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS hingga penutupan perdagangan pada 18 Mei melemah 897 poin atau sekitar 5,35 persen. Kurs rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Senin (18/5), di posisi 17.668 rupiah per dollar AS, sedangkan pada 30 Desember 2025 berada di level 16.771 rupiah per dollar AS.
- Kebijakan Moneter
- Kebijakan Fiskal
- rupiah melemah
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Harga Emas Pegadaian Hari Ini, Selasa (7/4), UBS, Antam, Galeri24 Kompak Turun
-
PLN UP3 Wamena Sebut Kapasitas Listrik 8 MW Mampu Layani 5 Kabupaten
-
Gubernur DIY Sri Sultan Minta ASN Makin Inovatif dan Kreatif
-
Klaim Swasembada Pangan, Faktanya Indonesia Impor 3,5 Juta Ton Tiap Tahun
-
Bekasi Gelar Lomba Menu MBG, Dorong Inovasi Gizi untuk Tekan Stunting
-
Pemerintah Genjot Bedah 400 Ribu Rumah untuk Masyarakat
-
Pemkab Lebak Minta Masyarakat Kasepuhan Tingkatkan Produksi Pangan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.