Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Liga Arab Serukan Deeskalasi dan Dialog untuk Kekerasan di Libya barat

📅 Rabu, 03 Sep 2025, 20:52 WIB | Oleh:
Liga Arab Serukan Deeskalasi dan Dialog untuk Kekerasan di Libya barat Doc: AFP
Ket. Seorang warga mengibarkan bendera Libya.

KAIRO - Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul-Gheit pada Selasa (2/9) menyerukan semua pihak di Libya barat melakukan deeskalasi dan menyelesaikan berbagai perbedaan melalui dialog, seraya menekankan bahwa penggunaan kekerasan hanya akan memperdalam perpecahan.

Dalam sebuah pernyataan, dia mengaku sangat khawatir atas meningkatnya ketegangan di Libya barat, terutama mengenai mobilisasi pasukan militer di dekat ibu kota, Tripoli. Aboul-Gheit menekankan Liga Arab memantau situasi dengan saksama, seraya menambahkan bahwa eskalasi dapat membuat negara itu berisiko kembali terjerumus ke dalam siklus konflik.

Sekjen Liga Arab itu mendesak semua pihak untuk terlibat secara serius dalam jalur negosiasi, seraya menegaskan kesiapan Liga Arab untuk terus mempromosikan dialog intra-Libya bekerja sama dengan sejumlah mitra regional dan internasional.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di sekitar Tripoli sejak pekan lalu, ketika bentrokan kecil dilaporkan meletus di beberapa lokasi di ibu kota Libya itu. Bentrokan mengakibatkan peningkatan kekuatan militer di dekat kota itu.

Pada Selasa yang sama, Misi Dukungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Libya mengatakan mereka "sangat khawatir dengan laporan ketegangan yang meningkat dengan cepat dan mobilisasi militer, yang dapat menyebabkan konfrontasi bersenjata".

Tripoli belum lama ini dilanda aksi kekerasan berulang, termasuk bentrokan besar pada pertengahan Mei 2025 antara pasukan yang loyal kepada Pemerintah Persatuan Nasional (Government of National Unity/GNU) yang diakui PBB dan Aparat Pendukung Stabilitas (Stability Support Apparatus/SSA), faksi bersenjata berat yang berpengaruh di Tripoli.

Libya masih terpecah sejak pemberontakan yang didukung NATO pada 2011 menggulingkan rezim pemimpin lama Muammar Gaddafi. Negara itu terpecah menjadi dua pemerintahan yang saling bersaing, yaitu GNU di Tripoli dan pemerintah di Libya timur yang didukung Tentara Nasional Libya pimpinan Khalifa Haftar. Ant/Xinhua

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Olahraga
Naomi Siap Hadapi Elise Mer...
Olahraga
Crysencio Summerville
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.