Korban Gempa Afghanistan Tembus 1.400 Jiwa, Ribuan Rumah Hancur dan Bantuan Terhambat
📅 Selasa, 02 Sep 2025, 19:45 WIB | Oleh: Paundra ZakirullohWHO juga menyoroti rapuhnya sistem kesehatan Afghanistan yang membuat fasilitas lokal kewalahan.
"Kerapuhan sistem kesehatan sebelum gempa bumi menyebabkan kapasitas lokal kewalahan, sehingga menciptakan ketergantungan total pada pihak eksternal," tambahnya.
Safiullah Noorzai dari Aseel, sebuah platform teknologi kemanusiaan, mengatakan bahwa makanan dan tenda sangat mendesak dibutuhkan. Banyak warga kini terpaksa tinggal di ruang terbuka karena rumah mereka hancur dan masih ada ketakutan akan gempa susulan.
Bencana ini terjadi di tengah kondisi Afghanistan yang masih miskin dengan populasi lebih dari 42 juta jiwa. Keterbatasan sumber daya membuat upaya penyelamatan dan distribusi bantuan menjadi semakin sulit dilakukan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sejauh ini, beberapa negara telah mengumumkan dukungan untuk Afghanistan. Inggris mengalokasikan dana sebesar 1 juta pound atau setara Rp21,5 miliar untuk mendukung operasi PBB dan Palang Merah Internasional.
India juga mengirimkan 1.000 tenda serta memindahkan 15 ton pasokan makanan ke Kunar. Bantuan tambahan dari India diperkirakan tiba dalam beberapa hari ke depan untuk memperkuat operasi kemanusiaan.
Selain itu, negara-negara seperti China, Uni Emirat Arab, Uni Eropa, Pakistan, dan Iran telah menjanjikan bantuan, meski sebagian besar bantuan tersebut belum sampai ke lokasi bencana. Kondisi ini semakin menegaskan kebutuhan mendesak akan koordinasi global yang lebih cepat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pemotongan dana bantuan asing sebelumnya, termasuk kebijakan Presiden AS Donald Trump pada Januari lalu yang memangkas pendanaan USAID, memperburuk situasi kemanusiaan. Pembatasan terhadap pekerja bantuan oleh Taliban juga membuat donor internasional semakin berhati-hati.
Krisis kemanusiaan di Afghanistan kini menjadi sorotan dunia internasional. Gempa ini menambah daftar panjang penderitaan rakyat Afghanistan yang sebelumnya sudah terhimpit konflik, kemiskinan, dan pengungsian besar-besaran.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!