Daftar 5 Anggota DPR Dicopot: Joget di Sidang hingga Ucapan Menyakiti Rakyat, Partai Politik Ikut Panik!

Senin, 01 Sep 2025, 09:30 WIB

JAKARTA - Gelombang demonstrasi rakyat yang semakin membesar akhirnya berbuah konsekuensi serius di Senayan. Sebanyak lima anggota DPR RI resmi dinonaktifkan oleh partai masing-masing, buntut dari ucapan dan tindakan yang dianggap mencederai hati rakyat. 

Keputusan ini diumumkan serentak Partai NasDem, PAN, dan Golkar, menandai betapa panasnya situasi politik pasca-gejolak sosial belakangan ini.

Ket. Foto: Potret pendemo — Sumber: Antara

Dari Fraksi NasDem, dua nama langsung disorot, Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach. 

Melalui surat keputusan yang ditandatangani Ketum Surya Paloh dan Sekjen Hermawi Taslim, keduanya resmi dinonaktifkan per 1 September 2025. 

Alasannya jelas, pernyataan mereka dianggap menyakiti perasaan masyarakat dan bertolak belakang dengan semangat partai yang mengklaim memperjuangkan aspirasi rakyat. 

Bahkan, Sahroni sebelumnya sudah lebih dulu dicopot dari jabatan Wakil Ketua Komisi III DPR akibat kontroversi serupa.

Tak kalah heboh, Fraksi PAN juga mengambil langkah drastis. Komedian sekaligus politisi Eko Patrio serta presenter kondang Uya Kuya dipaksa turun dari kursi empuk DPR. 

Publik masih mengingat jelas video viral mereka berjoget di sidang tahunan MPR RI, sebuah aksi yang dianggap melecehkan momen kenegaraan di tengah situasi bangsa yang memanas. 

Meski keduanya telah meminta maaf secara terbuka lewat akun media sosial masing-masing, gelombang amarah rakyat tak terbendung. 
PAN akhirnya menonaktifkan keduanya, seraya menyerukan agar rakyat tetap percaya pada kepemimpinan Presiden Prabowo.

Sementara dari Fraksi Golkar, giliran nama besar Adies Kadir yang tumbang. Sekjen Golkar, Sarmuji, mengumumkan penonaktifannya demi menjaga etika dan disiplin partai. 

Adies, yang menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI periode 2024–2029, terseret kontroversi setelah pernyataannya mengenai kenaikan tunjangan DPR memicu kemarahan publik. 

Meski ia buru-buru melakukan klarifikasi bahwa tidak ada kenaikan gaji maupun tunjangan, nasi sudah terlanjur menjadi bubur.
Rangkaian penonaktifan ini menjadi tamparan keras bagi parlemen. 

Apa yang seharusnya menjadi lembaga terhormat justru berkali-kali menampilkan wajah yang membuat rakyat marah, mulai dari joget tak pantas di forum resmi, hingga ucapan sembrono soal kesejahteraan anggota dewan ketika rakyat masih berjuang melawan krisis.

Kini publik menunggu, apakah penonaktifan ini hanyalah manuver partai untuk meredam amarah massa, atau benar-benar bentuk keseriusan menegakkan moral politik. 

Krisis kepercayaan rakyat terhadap DPR semakin dalam, dan lima nama yang jatuh ini hanyalah puncak gunung es dari masalah besar di Senayan.

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.