PERDOKJASI Dorong Mahasiswa Kedokteran Siap Jadi Pemimpin Jaminan Sosial dan Perasuransian
📅 Rabu, 27 Agu 2025, 12:53 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Arsip foto
JAKARTA– PERDOKJASI menegaskan pentingnya menyiapkan dokter Indonesia sejak bangku kuliah agar kelak mampu mengambil peran strategis dalam tata kelola jaminan sosial dan perasuransian. Hal ini menjadi pembahasan utama dalam pertemuan dengan Kolegium Dokter Konsil Kesehatan Indonesia (KKI) yang berlangsung di Jakarta, Selasa (26/8).
Ketua PP PERDOKJASI, Wawan Mulyawan, menyatakan bahwa Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) perlu diperkuat untuk menjawab tantangan sistem kesehatan nasional yang kian kompleks.
“SKDI 2012 sudah mencakup pembiayaan kesehatan, asuransi, dan kesehatan kerja,namun belum menempatkan dokter secara spesifik dalam tata kelola jaminan sosial dan perasuransian. Jika gap ini tidak ditutup sejak pendidikan kedokteran, baik di tahap S1 maupun profesi dokter, maka lulusan akan kesulitan berkontribusi optimal di bidang pembiayaan dan klaim. Karena itu, penguatan harus dimulai sejak awal,” tegas Wawan.
Ia menambahkan, inisiatif penguatan SKDI oleh PERDOKJASI ini bukan sekadar langkah jangka pendek, melainkan bagian dari roadmap menuju pembukaan program Magister (S2) Kedokteran Asuransi di Indonesia.
“Kami melihat kebutuhan akademik dan praktik kedokteran asuransi yang makin besar. Roadmap ini akan mengawal terbentuknya prodi S2 Kedokteran Asuransi, sehingga Indonesia memiliki dokter di bidang ini seperti di Swiss dan Kanada,” jelasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Senada dengan itu, Herkutanto, Dewan Pakar PERDOKJASI yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Konsil Kedokteran Indonesia periode 2014–2019, menilai pentingnya pendekatan multidisiplin dalam kurikulum kedokteran.
“Kedokteran asuransi tidak hanya soal medis, tapi juga hukum dan ekonomi. Dengan sembilan klaster pembelajaran, dari isu umum, dasar asuransi, hingga klaim dan kompensasi, mahasiswa kedokteran akan tumbuh sebagai dokter yang kompeten secara klinis sekaligus paham konteks hukum, sosial, dan ekonomi. Itulah fondasi untuk menyiapkan pemimpin masa depan,” ujarnya.
Komitmen yang sama juga ditegaskan oleh Efmansyah Iken Lubis, Ketua Kolegium Dokter KKI dengan pengalaman 14 tahun di dunia perasuransian.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kolegium siap berkolaborasi dengan PERDOKJASI dalam menyusun standar kompetensi baru. Ini momentum penting untuk memastikan sejak masa kuliah, calon dokter Indonesia sudah dibekali wawasan tata kelola jaminan sosial dan perasuransian,” jelas Iken.
Sementara itu, Titi Savitri, Wakil Ketua Kolegium Dokter KKI, menambahkan bahwa profil dokter abad ke-21 harus lebih luas dari sekadar klinisi.
“Dokter muda harus dididik bukan hanya sebagai penyedia layanan kesehatan, tetapi juga pendidik, peneliti, agen perubahan, dan pemimpin sosial. Integrasi isu jaminan sosial dan asuransi ke dalam SKDI adalah langkah strategis ke arah sana, namun hal ini jangan sampai menambah lama masa pendidikan kedokteran baik di jenjang S1 maupun profesi dokter,” ungkapnya.
PERDOKJASI menegaskan visinya untuk menjadi organisasi kedokteran terdepan dalam jaminan sosial dan perasuransian. Melalui riset, publikasi, pelatihan, dan advokasi kebijakan, organisasi ini berkomitmen menjembatani keahlian medis dengan tata kelola pembiayaan kesehatan.
Dengan penguatan SKDI sejak bangku kuliah, dokter Indonesia generasi baru diharapkan bukan hanya andal di ruang praktik, tetapi juga siap tampil sebagai pemimpin dalam menjaga keberlanjutan sistem jaminan sosial dan perasuransian.
*Siaran Pers
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!