Penurunan Harga Beras yang Terlalu Dalam Membuat Posisi Petani Semakin Tertekan
📅 Senin, 25 Agu 2025, 01:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiSelain itu, ada ketidakmerataan panen yang hanya menguntungkan sebagian kecil petani, sementara margin keuntungan yang lebih besar dinikmati oleh pemilik penggilingan atau pedagang beras, bukan petani kecil.
Pada sisi lain distributor dan pedagang yang mendominasi supply and chain bisa sesukanya mengatur harga. Ini yang hendak dibenahi pemerintah, dan kalau sudah mulai terlihat hasilnya dengan kenaikan NTP,” kata Bagong.
Dari Semarang akhir pekan lalu, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memastikan penurunan harga beras di pasaran tidak akan berpengaruh terhadap turunnya kesejahteraan petani.
Menurut Amran, tugas pemerintah tidak mudah untuk tetap menjaga petani tetap sejahtera dan konsumen bahagia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Oleh karena itu, Mentan memastikan harga pembelian gabah di tingkat petani dijaga minimal pada angka 6.500 rupiah per kilogram (kg). Pemerintah jelasnya telah bekerja keras menjaga agar semua pihak aman dan nyaman.
“Jaga kondisi yang baik ini. Stok kita saat ini tertinggi, harga sekarang lebih rendah dibanding tahun sebelumnya,” katanya lagi.
Bahkan, kata Mentan, hingga saat ini Indonesia tidak mengimpor di saat negara-negara lain kesulitan beras.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mentan pun optimistis dalam dua hingga tiga pekan ke depan, harga beras masih akan turun lebih rendah.
Operasi pasar, katanya masih akan berlangsung hingga Desember 2025 mengingat persediaan beras masih sangat besar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!