Jubir PBB: Situasi Rohingya Memburuk 8 Tahun Pascakonflik

Senin, 25 Agu 2025, 02:20 WIB

NEW YORK - Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, pada Jumat (22/8) mengatakan bahwa delapan tahun setelah perpindahan massal warga Rohingya dari Negara Bagian Rakhine di Myanmar, mereka menghadapi kondisi yang memburuk di dalam negeri dan di pengasingan.

"Delapan tahun sejak perpindahan massal paksa dari Negara Bagian Rakhine, orang-orang Rohingya di dalam dan di luar Myanmar menghadapi kerusakan lebih lanjut dari keadaan mereka yang sudah mengerikan," kata Dujarric.

Ket. Foto: Juru bicara PBB, Stephane Dujarric. — Sumber: unmissions.org

Dia mengatakan kekerasan telah mendorong lebih banyak Rohingya untuk melarikan diri, sebagian besar mencari perlindungan di Bangladesh, yang sudah menampung lebih dari 1,1 juta orang dari Myanmar.

Ia memperingatkan bahwa laporan tentang penolakan, pemulangan paksa, dan deportasi di berbagai wilayah menimbulkan keprihatinan serius terkait kemungkinan pelanggaran terhadap prinsip non-refoulement (larangan pemulangan paksa) serta semakin sempitnya ruang bagi pencari suaka.

Dujarric menekankan bahwa Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, telah menegaskan kembali seruannya untuk perlindungan terhadap semua warga sipil sejalan dengan kewajiban di bawah undang-undang hak asasi manusia, kemanusiaan dan pengungsi internasional.

Dujarric menambahkan bahwa utusan khusus Sekjen PBB untuk Myanmar sedang melibatkan semua pihak terkait guna menghentikan kekerasan dan berupaya mendorong proses politik yang layak dan dipimpin oleh Myanmar yang memungkinkan kepulangan Rohingya secara sukarela, aman, bermartabat, dan berkelanjutan. SB/Ant/Anadolu/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.