- Home
-
- Luar Negeri
-
- Taiwan dan Tiongkok Berebu...
Taiwan dan Tiongkok Berebut Narasi Sejarah Perang Dunia II Menjelang Parade Militer Beijing
Minggu, 24 Agu 2025, 16:15 WIBJAKARTA - Veteran Taiwan Pan Cheng-fa masih mengingat jelas perjuangannya melawan Jepang dalam Perang Dunia Kedua. Namun, ia tampak enggan membicarakan peran pasukan komunis yang saat itu beraliansi secara tidak nyaman dengan pemerintah Republik Tiongkok.
"Kami memberi mereka senjata, peralatan. Kami memperkuat mereka," ujar Pan yang kini berusia 99 tahun saat menghadiri peringatan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia Kedua di Taipei.Â
Ucapannya menyoroti keretakan sejarah yang hingga kini masih diperdebatkan antara Taiwan dan Tiongkok.
Ketika Beijing bersiap menggelar parade militer besar bulan depan untuk memperingati kemenangan perang, Taiwan dan Republik Rakyat Tiongkok terjebak dalam perang narasi. Keduanya saling klaim siapa yang layak diakui sebagai pihak yang berjasa dalam mengalahkan Jepang.
Pertempuran di Tiongkok dimulai serius pada 1937 ketika Jepang melancarkan invasi besar-besaran. Perlawanan berlangsung hingga 1945 ketika Jepang menyerah dan Taiwan diserahkan kepada Republik Tiongkok setelah puluhan tahun berada di bawah kekuasaan Jepang.
"Setelah Jepang jatuh, target (komunis) berikutnya adalah Republik Tiongkok," tegas Pan.
Ia merujuk pada pecahnya kembali perang saudara yang akhirnya dimenangkan pasukan Mao Zedong, memaksa pemerintah Republik Tiongkok melarikan diri ke Taiwan pada 1949.
Partai Komunis Tiongkok kerap menonjolkan peran mereka dalam perang melawan Jepang. Namun, banyak pertempuran sesungguhnya dilakoni pasukan Republik Tiongkok di bawah kepemimpinan Chiang Kai-shek, bahkan Republik Tiongkok lah yang menandatangani perjanjian damai bersama Sekutu.
"Selama perang perlawanan Republik Tiongkok melawan Jepang, Republik Rakyat Tiongkok bahkan belum ada," tegas pejabat senior Dewan Urusan Daratan Taiwan, Chiu Chui-cheng, pada 15 Agustus lalu.
Ia menuduh Beijing memutarbalikkan fakta sejarah dengan mengklaim Partai Komunis sebagai pemimpin utama perlawanan.
Menurut Dewan Urusan Daratan, strategi komunis pada masa itu lebih banyak diarahkan untuk memperkuat diri sendiri.
"70 persen memperkuat diri, 20 persen menghadapi Republik Tiongkok, dan hanya 10 persen melawan Jepang," lanjut lembaga tersebut, mengulang tuduhan lama terhadap Mao Zedong.
Sementara itu, peringatan di Taiwan digelar sederhana tanpa menyebut peran Partai Komunis. Acara yang digelar Kementerian Pertahanan menampilkan konser dengan tema Perang Dunia II, termasuk penampilan penyanyi yang mengenakan seragam pasukan republik dan simbol Flying Tigers, sukarelawan pilot asal Amerika Serikat.
"Sejarah menegaskan bahwa Perang Perlawanan dipimpin dan dimenangkan oleh Republik Tiongkok," bunyi pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Taiwan.
Pesan tersebut menegaskan klaim Taipei atas kepemimpinan mereka dalam perjuangan melawan Jepang.
Beijing membalas tudingan itu dengan keras. Surat kabar resmi Peopleâs Daily menulis bahwa kewaspadaan diperlukan terhadap upaya untuk mendistorsi dan memalsukan peran Partai Komunis sebagai tulang punggung perjuangan rakyat Tiongkok.
Pemerintah Tiongkok menekankan bahwa kemenangan melawan Jepang adalah milik seluruh rakyat Tiongkok, termasuk warga Taiwan. Mereka juga menegaskan bahwa berakhirnya perang pada 1945 membuat Taiwan dikembalikan ke Tiongkok, sesuai dengan hasil perjanjian damai pasca-Perang Dunia II.
Namun, pemerintah Taiwan menolak klaim tersebut. Taipei menegaskan tidak ada perjanjian yang menyebutkan penyerahan Taiwan kepada Republik Rakyat Tiongkok, karena rezim komunis baru berdiri pada 1949.
Presiden Taiwan Lai Ching-te bahkan memperingatkan rakyatnya melalui unggahan di media sosial. Ia menegaskan bahwa agresi pasti bisa dikalahkan, merujuk langsung pada ancaman militer Beijing terhadap pulau itu.
Republik Rakyat Tiongkok tetap mengklaim diri sebagai penerus Republik Tiongkok dan menegaskan Taiwan bagian tak terpisahkan dari wilayahnya. Namun, pemerintah Taipei dengan tegas menolak pandangan tersebut dan mengimbau warganya tidak menghadiri parade militer di Beijing.
Veteran Pan yang keluarganya menderita akibat perang saudara menyatakan dirinya tak punya alasan untuk merayakan acara Beijing.
"Saya tidak bisa mengatakan hal baik tentang komunis," tegasnya, menutup kisah panjang perselisihan sejarah yang belum berakhir.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Lidah Warga Tiongkok Mulai Jatuh Hati pada Makanan Olahan RI
-
Trump Ingin Tiongkok Belanja Lebih Banyak Energi dari AS
-
Inter Milan Berpeluang Kunci Gelar
-
DKI Jakarta rencanakan bentuk PJLP khusus tangani ikan sapu-sapu
-
Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Tetap Terbuka Tanpa Pungutan
-
Tiongkok Gelar "Operasi Khusus" di Dekat Taiwan, Terusik dengan Pertemuan Jepang-Filipina
-
Iran "Tutup Pintu" Dialog! Tolak Mentah-mentah Perundingan Putaran Kedua dengan AS
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.