Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Alih Fungsi Lahan Sawah Masif, Benarkah LP2B Serang Masih Aman?

📅 Minggu, 24 Agu 2025, 22:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Alih Fungsi Lahan Sawah Masif, Benarkah LP2B Serang Masih Aman? Doc: ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/aww.
Ket. Ilustrasi - Area persawahan yang mulai beralih fungsi menjadi lahan permukiman.

SERANG – Penyusutan total luas lahan persawahan di Indonesia menjadi salah satu tantangan serius dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Secara struktural, fenomena ini dipicu oleh alih fungsi lahan yang masif, terutama di kawasan strategis seperti Jawa dan Bali, di mana tekanan urbanisasi, industrialisasi, serta pembangunan infrastruktur semakin tinggi.

Lahan sawah yang dulunya menjadi basis produksi pangan berubah menjadi kawasan perumahan, jalan tol, hingga area komersial.

Dari perspektif ekonomi, alih fungsi lahan sering dianggap lebih menguntungkan secara jangka pendek dibandingkan mempertahankan sawah.

Nilai jual tanah meningkat drastis, sementara margin keuntungan petani dari hasil panen kerap rendah akibat fluktuasi harga gabah dan tingginya biaya produksi. Akibatnya, insentif untuk mempertahankan sawah semakin melemah.

Secara ekologis, penyusutan sawah tidak hanya mengurangi kapasitas produksi beras, tetapi juga mengancam fungsi ekosistem, seperti penyerapan air, pencegahan banjir, dan pelestarian keanekaragaman hayati.

Hilangnya lahan sawah beririgasi teknis, yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dibangun, merupakan kerugian yang sulit tergantikan.

Jika tren penyusutan ini berlanjut, Indonesia berisiko semakin bergantung pada impor beras, sehingga rentan terhadap gejolak harga pangan global.

Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang tegas dan berbasis data presisi, seperti perlindungan lahan sawah berkelanjutan, pemberian insentif bagi petani untuk tetap menggarap sawah, serta peningkatan produktivitas melalui teknologi pertanian modern.

Pemerintah Kota (Pemkot) Serang, Banten, memastikan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di wilayahnya tetap aman dan tidak akan tergerus oleh pembangunan, meskipun data terbaru menunjukkan adanya penyusutan total luas lahan persawahan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Serang, Sony August, di Serang, Minggu (24/8), mengatakan berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), terjadi penyusutan lahan sawah kurang dari satu persen. Penyusutan ini mayoritas disebabkan oleh alih fungsi lahan menjadi perumahan.

"Kemarin ada penyusutan dari BPS. Penyusutan kebanyakan jadi lahan perumahan," ujarnya.

Meski demikian, Sony menegaskan bahwa penyusutan tersebut tidak akan mengubah dan mengurangi luas LP2B yang telah ditetapkan. Kawasan pertanian yang dilindungi ini, terutama yang berada di lumbung padi Kota Serang, dipastikan tidak terdampak.

"Penyusutan itu tidak akan mengubah LP2B kita. Insya Allah tidak akan mengubah," tegasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Halaman Rubrik
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.