Rupiah Melemah Diterpa Bayang-Bayang Inflasi Ganas AS
📅 Selasa, 12 Agu 2025, 16:02 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara.
JAKARTA - Rupiah kembali tertekan di tengah meningkatnya ketegangan pasar global.
Pelemahan ini bukan sekadar fluktuasi musiman, melainkan cerminan dari ekspektasi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) Amerika Serikat yang memicu kekhawatiran pelaku pasar akan langkah agresif The Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Sentimen tersebut memperkuat dolar AS sebagai aset lindung nilai, sementara rupiah harus berjibaku mempertahankan daya tariknya di mata investor asing.
Jika inflasi AS benar-benar melampaui perkiraan, tekanan terhadap rupiah berpotensi semakin dalam, memperlebar celah ketidakpastian pada perekonomian domestik.
Dalam lanskap ini, strategi Bank Indonesia akan menjadi penentu apakah rupiah mampu kembali bangkit atau justru terseret arus deras kebijakan moneter global.
Sebaiknya Anda baca juga:
Seperti dikerahui, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, Selasa (12/8), di Jakarta melemah sebesar 10 poin atau 0,06 persen menjadi Rp16.290 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.280 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menganggap pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi ekspektasi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) Amerika Serikat (AS).
"Fokus pasar hari ini adalah Indeks Harga Konsumen (IHK) akan dirilis malam nanti pukul 19.30 WIB. IHK umum pada Juli diperkirakan akan berada di sekitar 2,8 persen secara YoY (year on year), naik dari 2,7 persen di bulan Juni. Sementara, IHK inti untuk Juli diperkirakan akan naik di atas ambang batas 3 persen untuk pertama kalinya sejak Februari 2025," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (12/8).
Sebaiknya Anda baca juga:
Mengutip Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), disebutkan bahwa pasar berpotensi mengurangi ekspektasi terhadap suku bunga sebesar 25 basis points (bps) pada pertemuan Federal Open Market Committee bulan September 2025.
Melihat dari perspektif kebijakan moneter AS, pasar berpegang pada prospek dovish The Fed dengan probabilitas pemangkasan suku bunga di bulan September mencapai 85-89 persen menurut CME FedWatch Tool, serta ekspektasi minimal dua kali penurunan hingga akhir tahun.
Gubernur The Fed Michelle Bowman secara eksplisit telah menyatakan dukungan untuk melakukan pemangkasan suku bunga pada setiap pertemuan FOMC yang tersisa tahun ini. Hal ini didasari alasan pelemahan pasar tenaga kerja lebih signifikan dibandingkan risiko inflasi yang berpotensi meningkat.
Selain itu, pelemahan kurs rupiah juga dipengaruhi kesepakatan dagang AS-Tiongkok terkait penundaan penerapan tarif.
"AS dan Tiongkok memperpanjang gencatan senjata tarif mereka pada hari Senin (11/8/2025) selama 90 hari lagi, mencegah bea masuk tajam yang dapat mengganggu perdagangan," ujar Ibrahim.
Mengacu Kyodo, Presiden AS Donald Trump pada Senin menandatangani perintah eksekutif yang memperpanjang gencatan perang tarif dengan Tiongkok selama 90 hari. Tanpa perpanjangan tersebut, produk-produk buatan Tiongkok yang masuk ke AS akan dikenakan tarif tambahan sebesar 24 persen mulai Selasa (12/8/2025).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!