Korsel–AS Siapkan Pertemuan Puncak karena Banyak Detail Kesepakatan Dagang Belum Final

Senin, 04 Agu 2025, 19:30 WIB

JAKARTA – Sebelas bulan setelah Washington dan Seoul secara lisan mengumumkan kesepakatan tarif, rincian utama dalam perjanjian dagang tersebut ternyata belum diselesaikan sepenuhnya. Negosiator lama dan pakar menyatakan bahwa beberapa isu kritis seperti pembagian keuntungan investasi, biaya pertahanan, dan hambatan non-tarif masih belum jelas, membuka potensi perdebatan kembali saat KTT antar pemimpin dijadwalkan dalam dua minggu ke depan.

Kesepakatan tersebut menurunkan tarif impor AS terhadap sebagian besar produk Korea menjadi 15%, sebagai imbal balik atas komitmen investasi senilai US$ 350 miliar dalam proyek-proyek milik AS. Namun belum ada kesepakatan tertulis di antara kedua pihak, sehingga interpretasi divergen bisa terjadi ke depan.

Ket. Foto: — Sumber: Reuters

Penasihat presiden Korea menolak klaim AS bahwa 90% keuntungan dari investasi tersebut akan kembali ke pihak Amerika. Perbedaan ini menimbulkan kekhawatiran soal transparansi dana dan struktur kesepakatan yang belum sepenuhnya disepakati secara resmi.

Sementara Menteri Perindustrian Korea menyampaikan kekhawatiran terkait dampak tarif baru tersebut terhadap eksportir lokal, khususnya perusahaan menengah dan kecil. Ia menyoroti bahwa 15% tarif tetap dapat menggerus profitabilitas perusahaan di Korea dibandingkan pesaing AS meskipun mengurangi tekanan dari tarif awal 25%.

Korea melihat peluang untuk menjadikan industri galangan kapal sebagai alat tawar dalam negosiasi tersebut. Sektor ini diharapkan masuk dalam investasi strategis AS seperti kapal militer, semikonduktor, dan biofarma, komponen dari paket investasi US$ 350 miliar.

Isu lain yang belum mencapai titik temu meliputi kebijakan non-tarif seperti regulasi teknologi, pertanian (termasuk pasar beras dan daging sapi), serta kebijakan mata uang. Diskusi lebih lanjut direncanakan sebelum KTT untuk menyelesaikan kekurangan deregulasi tersebut.

Tidak adanya dokumen tertulis mempertinggi risiko interpretasi yang berbeda di event regional berikutnya. Beberapa pemerhati menyamakan situasi ini seperti kesepakatan tidak mengikat, mengkhawatirkan stabilitas hubungan bilateral jangka panjang.

Kementerian Keuangan Korea menyatakan bahwa rincian operasional dana—antara pinjaman, jaminan, hingga investasi modal—belum ditentukan. Hal ini menjadi hambatan besar mengingat sebagian besar dana diharapkan berupa pinjaman dan jaminan, sedangkan investasi ekuitas hanya sebagian kecil yang masuk ke struktur investasi.

Isu biaya pertahanan menjadi agenda penting selama KTT nanti. Trump sebelumnya menekankan bahwa Korea harus meningkatkan kontribusinya terhadap kehadiran pasukan AS di Semenanjung Korea, sesuatu yang belum dibahas secara formal dalam deal lisan tersebut.

Ditegaskan bahwa meski kesepakatan dianggap sebagai kemenangan diplomatik sementara, Korea tidak dapat “berlepas tangan” karena ketidakpastian timbul akibat detail implementasi yang belum final. Hal ini ditegaskan pejabat tinggi negara saat kembali dari Washington.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.