Sinyal The Fed Bikin Panik, IHSG Terkoreksi di Akhir Sesi
📅 Kamis, 31 Jul 2025, 18:27 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah setelah pasar merespons keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) yang mempertahankan suku bunga acuannya.
Meskipun suku bunga tidak dinaikkan, pernyataan The Fed yang cenderung tetap hawkish menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan global.
Investor menilai bahwa sikap wait and see dari The Fed bukan sinyal pelonggaran, melainkan indikasi kehati-hatian yang bisa membuka ruang pengetatan kembali.
Kondisi ini mendorong aksi jual di pasar saham, terutama pada sektor-sektor sensitif terhadap suku bunga dan nilai tukar, seperti properti dan perbankan. Selain itu, arus keluar dana asing turut menekan pergerakan IHSG seiring penguatan dolar AS.
Pelemahan IHSG mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek global yang belum stabil, serta potensi tekanan lanjutan terhadap aset-aset berisiko di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia
Sebaiknya Anda baca juga:
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (31/7) sore ditutup melemah 65,55 poin atau 0,87 persen ke posisi 7.484,34, seiring pelaku pasar merespon kebijakan The Fed yang menahan tingkat suku bunga acuannya.
Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 7,68 poin atau 0,96 persen ke posisi 790,47.
"Bursa regional Asia bergerak melemah, seiring pelaku pasar merespon The Fed yang kembali menahan tingkat suku bunga untuk tidak berubah di level 4,25-4,5 persen," sebut Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan level suku bunga acuan saat ini sudah tepat untuk mengelola ketidakpastian yang berkelanjutan seputar tarif dan inflasi di AS.
Pelaku pasar juga mempertimbangkan data AS yang lebih kuat dari perkiraan, dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dan lapangan kerja swasta yang melampaui perkiraan.
Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada data inflasi Price Consumer Index (PCI) dan klaim pengangguran yang akan dirilis pada Kamis (31/07), diikuti oleh laporan ketenagakerjaan Juli 2025 pada Jumat (01/07).
Dari kawasan Asia, Bank Of Japan (BoJ) mempertahankan suku bunga acuan jangka pendeknya di level 0,5 persen, seiring bank sentral ingin melanjutkan normalisasi kebijakan moneter secara bertahap.
Pelaku pasar juga merespon rilis data ekonomi China, National Bureau Statistic (NBS) China menyampaikan PMI Manufaktur turun menjadi 49,3 pada Juli 2025 dari level tertinggi tiga bulan pada Juni 2025 yang sebesar 49,7, atau jauh di bawah ekspektasi dan menandai kontraksi aktivitas pabrik selama empat bulan berturut-turut.
PMI Non-Manufaktur NBS resmi China turun ke level 50,1 pada Juli 2025 dari level 50,5 pada bulan sebelumnya, atau menandai angka terendah sejak November 2024 dan lebih rendah dari konsensus pasar yang sebesar 50,3.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!