Stagnasi Pertumbuhan Hanya Bisa Ditembus dengan Peningkatan Produktivitas
📅 Rabu, 16 Jul 2025, 01:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: antara
JAKARTA - Peningkatan produktivitas nasional merupakan kunci strategis untuk mendorong daya saing Indonesia di tengah kompetisi global yang semakin ketat. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengatakan Indonesia tidak bisa terus bergantung pada jumlah tenaga kerja dan investasi modal.
“Jika ingin melakukan lompatan kemajuan, kita harus mendorong produktivitas melalui inovasi dan efisiensi. Ini harus menjadi gerakan nasional lintas sektor,” kata Menaker dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (17/7).
Menurut Menaker, produktivitas tenaga kerja Indonesia perlu ditingkatkan secara sistematis. Meskipun laju pertumbuhan Indonesia mulai sejajar dengan Malaysia dan Thailand, kontribusi Total Factor Productivity (TFP) yang mencerminkan efisiensi, inovasi, dan pemanfaatan teknologi, masih tertinggal dibandingkan negara-negara seperti Tiongkok, Vietnam, dan India.
Sebagai langkah awal, Menaker mengatakan gerakan peningkatan produktivitas akan difokuskan pada 1.000 perusahaan skala menengah. Kelompok tersebut dinilai memiliki peran signifikan dalam penyerapan tenaga kerja, akan tetapi masih menghadapi tantangan dalam modernisasi teknologi dan akses terhadap inovasi.
“Mereka adalah tulang punggung ekonomi nasional, tetapi belum sepenuhnya tersentuh kebijakan produktivitas. Kita ingin bantu mereka naik kelas,” katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pihaknya akan menyiapkan 500 Productivity Specialists yang berasal dari unsur serikat pekerja, pengusaha, dan pemerintah. Para peserta akan mengikuti pelatihan bersertifikat internasional bekerja sama dengan Asian Productivity Organization (APO) dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
“Kalau kita serius membangun budaya produktif sejak sekarang, kita bisa menembus batas stagnasi. Ini bukan sekadar strategi ketenagakerjaan, tapi strategi besar untuk masa depan bangsa,” kata Yassierli.
Pada kesempatan lain, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) DIY, Tim Aprianto, menekankan bahwa dorongan terhadap produktivitas nasional harus menjadi gerakan lintas sektor yang konkret, bukan sekadar wacana seremonial.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menyebut tantangan utama saat ini bukan pada jumlah tenaga kerja atau besarnya investasi, tetapi pada efisiensi dan keberanian berinovasi di tengah kompleksitas regulasi dan tingginya biaya non-produktif di lapangan.
“Kami melihat produktivitas belum menjadi kultur kolektif. Masih banyak pelaku usaha yang terjebak pada pola lama karena ekosistem yang mendukung inovasi belum terbentuk. Pemerintah perlu lebih serius menyatukan arah kebijakan, dari pusat hingga daerah, agar upaya peningkatan produktivitas tidak berjalan sendiri-sendiri,” ujar Tim Aprianto, Selasa (15/7).
Ia juga mengatakan pentingnya mendorong efisiensi tidak hanya di sisi industri, tetapi juga di dalam birokrasi. Menurutnya, selama pelaku usaha masih dihadapkan pada regulasi yang tumpang tindih dan ketidakpastian dalam perizinan, maka dorongan produktivitas akan selalu terbentur.
“Di sektor riil, kami butuh dukungan konkret. Misalnya kemudahan akses teknologi, pelatihan kerja berbasis kebutuhan industri, dan pemangkasan ongkos birokrasi. Tapi lebih dari itu, mindset produktif harus ditanamkan juga ke instansi-instansi publik. Tidak bisa industri dipaksa efisien sementara proses perizinan masih lambat dan mahal,” tegasnya.
Pihaknya pun mendorong agar program peningkatan produktivitas lebih menyentuh sektor UMKM dan industri daerah, bukan hanya perusahaan besar di kota. Tim Aprianto berharap kebijakan itu disertai roadmap yang jelas dan insentif yang adil, agar pelaku usaha di daerah tidak merasa hanya jadi penonton dalam agenda nasional.
Daya Saing Merosot
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!