Wamenperin: Batam Berpotensi Jadi Kawasan Pengembangan Industri Berbasis AI, Ini Keunggulannya!
📅 Kamis, 10 Jul 2025, 21:17 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Kemenperin
JAKARTA-Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menyampaikan, Batam, Kepulauan Riau, memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan strategis bagi pembangunan industri kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia.
Hal itu disampaikan Wamenperin dalam Focused Group Discussion (FGD) bertema "Potensi Penguatan Industri Elektronika dalam Rangka Pengembangan Industri AI di Indonesia" di Batam, Kamis (10/7).
"Batam bisa menjadi salah satu kawasan pembangunan industri AI pada masa depan, ujar Faisol. Apalagi, potensi memiliki 19 kawasan industri yang Batam sudah berkembang, dan beberapa perusahaan yang beroperasi di dalamnya telah terlibat dalam pengembangan teknologi elektronika, termasuk komponen-komponen penting yang menjadi fondasi pengembangan AI.
Sebelumnya, Faisol telah melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah perusahaan di Batam. Ia melihat langsung kesiapan kawasan industri dan perusahaan industri di Batam dapat mendukung terwujudnya basis industri berteknologi tinggi.
Kemarin, kami mengunjungi perusahaan sektor telematika, pemasok komponen untuk produk gadget global, serta lokasi rencana pembangunan pabrik mitra dalam rantai pasok Apple yang akan memproduksi AirTag. "Ini bukti bahwa Batam sangat berpotensial," tambahnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Adapun, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menegaskan, Batam telah lama menjadi garda terdepan dalam industri perangkat telekomunikasi dan jasa digital. Ia juga melihat infrastruktur dan posisi Batam yang strategis mendukung perannya sebagai pusat unggulan dalam pengembangan AI nasional.
"Batam bisa jadi flagship bangsa dalam memproduksi perangkat dan jasa telekomunikasi. Maka penting untuk menyiapkan infrastruktur industri AI di sini," ujarnya.
Perkuat Industri Vertikal
Sebaiknya Anda baca juga:
Direktur IT Digital PT Telkom Indonesia Faizal Rochmad Djoemadi yang hadir dalam diskusi tersebut menekankan pentingnya memperkuat industri vertikal terutama di sektor manufaktur, dalam konteks Batam. "Kita harus tetap waspada terhadap risiko seperti kebocoran data privasi, tetapi mari kita fokus pada potensi positif dari pengembangan industri AI ini, tuturnya.
FGD ini menjadi langkah awal yang penting dalam menyatukan pandangan lintas sektor, baik pemerintah, pelaku industri, hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menjadikan Batam sebagai pusat unggulan dalam transformasi industri berbasis AI.
Berdasarkan analisis Kearney, pemanfaatan AI di Indonesia diprediksi berkontribusi terhadap peningkatan ekonomi dengan kontribusi PDB sebesar 12% pada tahun 2030 atau sebesar USD 366 miliar. Nilai ini merupakan yang terbesar secara nominal di Kawasan ASEAN, menunjukkan besarnya potensi ekonomi digital yang dimiliki Indonesia.
Potensi tersebut mencerminkan bahwa Indonesia memiliki pasar yang luas dan basis industri yang kuat untuk menyerap dan mengembangkan teknologi AI. Namun, untuk merealisasikan potensi tersebut secara optimal, diperlukan percepatan dalam pembangunan infrastruktur digital, peningkatan kualitas SDM, serta regulasi yang mendukung ekosistem AI nasional.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!