BPS: NTT Alami Inflasi 1,72 Persen pada Juni 2025, Harga Pangan Jadi Pemicu Utama
📅 Kamis, 03 Jul 2025, 11:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara Foto
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Juni 2025 terjadi inflasi year on year (yoy) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebesar 1,72 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 107,51.
“Inflasi NTT pada Juni 2025 sebesar 1,72 persen (yoy), kondisi ini naik dibandingkan Mei 2025 sebesar 1,60 persen,” kata Kepala BPS Provinsi NTT Matamira B. Kale dalam keterangan di Kupang, Rabu.
Ia menyebutkan inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) sebesar 3,92 persen dengan IHK sebesar 109,37 dan inflasi terendah terjadi di Kota Kupang sebesar 0,53 persen dengan IHK sebesar 106,59.
Adapun inflasi y-on-y Juni 2025 terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya 9 dari 11 indeks kelompok pengeluaran.
Kelompok pengeluaran dengan andil inflasi tertinggi adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,09 persen, diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,49 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Sedangkan andil deflasi (yoy) terdalam terjadi pada kelompok transportasi sebesar -0,05 persen,” tambah dia.
Provinsi NTT mengalami deflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,11 persen dan terjadi inflasi year-to-date (y-to-d) sebesar 1,04 persen pada Juni 2025.
“Deflasi m-to-m terjadi di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) sedangkan inflasi terjadi di Waingapu, Maumere, Kabupaten Ngada, dan Kota Kupang,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kondisi ini bertolak belakang kalau dibandingkan dengan Mei 2025, karena pada waktu itu Kabupaten TTS menjadi satu-satunya daerah yang mengalami inflasi.
Disebutkan komoditas yang memberi andil penghambat inflasi (mtm) atau pendorong deflasi tertinggi di antaranya ada komoditas cabai rawit 0,12 persen, ikan tembang 0,07 persen, cabai merah 0,048 persen, bawang merah 0,02 persen, dan angkutan laut 0,026 persen.
“Komoditas ini yang menghambat inflasi umumnya didominasi oleh kelompok komoditas makanan, minuman, dan tembakau. Komoditas ini sangat rentan terhadap perubahan dan tergantung pada banyak hal seperti permintaan pasar, kebijakan pemerintah, bencana alam, dan sejenisnya,” kata dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!