• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Mengenal Malam 1 Suro di J...

Mengenal Malam 1 Suro di Jawa Tengah: 7 Tradisi Sakral Penuh Makna, dari Kirab Kebo Bule hingga Festival Bubur Suro

Senin, 23 Jun 2025, 10:05 WIB

JAKARTA - Malam 1 Suro selalu menjadi momen istimewa bagi masyarakat Jawa, khususnya di wilayah Jawa Tengah. Menandai pergantian tahun dalam kalender Jawa yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah, malam ini dirayakan dengan beragam tradisi penuh simbol dan makna.

Tahun ini, malam 1 suro akan dimulai pada Jumat, 27 Juni 2025. Namun, dalam tradisi Jawa, malam 1 Suro diperingati pada malam sebelumnya, yaitu Kamis malam, 26 Juni 2025, setelah matahari terbenam. 

Ket. Foto: Tradisi malam 1 suro di Jawa Tengah — Sumber: Pixabay

Ini sesuai dengan sistem penanggalan Jawa yang menghitung hari baru sejak terbenamnya matahari, bukan tengah malam seperti kalender Masehi.

Lalu, tradisi apa saja yang masih hidup dan terus lestari di berbagai daerah Jawa Tengah? Berikut 7 tradisi ikonik yang sarat filosofi!

1. Kirab Kebo Bule di Keraton Surakarta

Tradisi malam 1 Suro yang paling populer adalah Kirab Pusaka dan Kebo Bule di Keraton Kasunanan Surakarta. Tradisi ini berakar dari era Pakubuwono X dan masih dilestarikan hingga kini. Ribuan warga berkumpul untuk menyaksikan prosesi yang dimulai pukul 23.00 WIB.

Kirab diawali kehadiran kerbau albino keramat bernama Kyai Slamet, yang dipercaya membawa berkah dan keselamatan. Prosesi berlangsung hening sebagai bentuk tirakat dan introspeksi menyambut tahun baru.

2. Jamasan Pusaka Mangkunegaran

Di Pura Mangkunegaran, Solo, berlangsung tradisi Jamasan Pusaka, yaitu prosesi mencuci keris dan benda pusaka lainnya. Upacara ini bukan sekadar merawat benda warisan leluhur, tetapi juga bentuk spiritualitas untuk membersihkan jiwa.

Pusaka dicuci dengan air kelapa, jeruk nipis, abu arang, lalu diberi wewangian dan doa. Ritual ini juga disertai sesajen khas dan doa bersama.

3. Larap Slambu Gunung Kemukus, Sragen

Larap Slambu merupakan ritual membersihkan kelambu makam Pangeran Samudro di Gunung Kemukus, Sragen. Air dari tujuh mata air digunakan dalam ritual ini, melambangkan penyucian lahir dan batin.

Selain ritual utama, acara ini diramaikan dengan festival budaya, karnaval, lomba seni, hingga bazar UMKM yang meriahkan suasana spiritual dan budaya.

4. Manten Lurah Traji, Temanggung

Di Temanggung, ada tradisi unik Manten Lurah Traji, di mana kepala desa dan istrinya berdandan seperti pengantin dan diarak ke sumber mata air sakral, Sendhang Sidukun.

Tradisi ini berasal dari legenda lokal dan mengajarkan pesan moral soal kedekatan manusia dengan alam. Warga juga berebut gunungan hasil bumi sebagai simbol keberkahan.

5. Tirakat dan Tumpengan di Kebumen

Warga Desa Kalirejo, Kebumen, merayakan malam 1 Suro dengan tirakat bersama dan ritual tumpengan. Gunungan tumpeng dibawa dan didoakan bersama, lalu dimakan bersama-sama sebagai wujud rasa syukur.

Tradisi ini menekankan makna spiritual seperti refleksi diri, harapan akan keselamatan, dan mengingat pentingnya nilai gotong royong.

6. Kungkum di Tugu Soeharto, Semarang

Di Tugu Soeharto, Semarang, digelar tradisi kungkum jamas, yakni berendam di sungai untuk menyucikan diri secara spiritual. Lokasi ini dipercaya sebagai tempat bertapa Presiden Soeharto muda.

Tradisi ini melibatkan air dari pertemuan dua sungai dan dipercaya bisa membersihkan energi negatif dalam tubuh dan hati.

7. Festival Bubur Suro, Pekalongan

Tak kalah menarik, di Pekalongan digelar Festival Bubur Suro, yang menyajikan 3.000 porsi bubur gratis bagi warga. Bubur ini dibuat dari beras, santan, dan tujuh jenis kacang sebagai simbol harapan hidup yang manis dan seimbang.

Tradisi ini diwarnai dengan kirab budaya, lomba, dan hiburan rakyat. Selain di Pekalongan, bubur Suro juga dinikmati di kota-kota lain seperti Solo dan Semarang.

Tradisi-tradisi malam 1 Suro di Jawa Tengah bukan hanya ritual budaya, tapi juga sarana refleksi diri, pemersatu masyarakat, dan warisan kearifan lokal.

Setiap prosesi menyimpan filosofi dalam yang menuntun masyarakat untuk tetap eling dan waspada dalam menjalani hidup.

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.