Konflik Iran-Israel Picu Kenaikan Biaya Logistik RI, Ini Kata Pengamat !
📅 Kamis, 19 Jun 2025, 19:11 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA-Belum meredanya perang Iran-Israel mempengaruhi biaya logistik di sektor maritim. Hal itu seiring dengan melonjaknya harga minyak mentah dunia yang kini menembus 120 dollar AS per barel dan meningkatnya risiko pelayaran di kawasan Teluk Persia.
Pengamat maritim dari Ikatan Alumni Lemhannas Strategic Center (ISC) Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa mengatakan, gangguan di Selat Hormuz, jalur ekspor utama minyak global, menjadi ancaman langsung bagi stabilitas sistem logistik dunia, termasuk bagi negara kepulauan seperti Indonesia.
“Ketika jalur pelayaran utama terganggu, maka seluruh rantai logistik global terdampak. Kapal harus menyesuaikan rute dan waktu tempuh, sementara biaya seperti bunker fuel dan asuransi ikut melonjak. Ini memukul industri pelayaran nasional kita yang sebagian besar masih mengandalkan kapal-kapal tua,” kata Pengamat asal Maumere,NTT itu, Kamis (19/6).
Dr. Marcel Hakeng menyoroti tarif pengapalan atau freight dari dan ke pelabuhan Indonesia bisa naik antara 20 hingga 30 persen. Kenaikan itu menurunkan daya saing ekspor komoditas seperti batu bara, CPO, karet, hingga produk perikanan.
Dampak juga terasa di pelabuhan-pelabuhan utama seperti Tanjung Priok, Tanjung Perak, dan Belawan, yang mengalami perlambatan arus barang. Beberapa operator kapal menunda pelayaran untuk menghindari risiko geopolitik dan beban biaya yang tinggi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam skala mikro terang dia, nelayan tradisional ikut terdampak. Harga solar melonjak, bahkan bisa dua kali lipat dari harga normal. Akibatnya, nelayan di wilayah seperti Bitung, Sibolga, dan Kendari mulai enggan melaut.
“Ini mengganggu pasokan ikan di pasar domestik, menaikkan harga, dan memperlemah ketahanan pangan laut kita,” ujar Capt. Hakeng.
Di sisi lain, lonjakan harga energi global berpotensi membebani APBN. Pemerintah diperkirakan harus menanggung tambahan subsidi energi hingga Rp75 triliun jika harga minyak tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Inflasi akan meningkat, terutama di wilayah timur Indonesia yang sangat bergantung pada distribusi laut. Ketika biaya logistik naik, harga barang kebutuhan pokok juga ikut terdorong,” tutur Capt. Hakeng.
Meski situasi ini membuka peluang strategis, misalnya melalui pengalihan rute pelayaran dari Teluk Persia ke Asia Tenggara, Capt. Hakeng menilai Indonesia belum siap menjadi simpul logistik regional.
Proyek seperti Pelabuhan Patimban dan Kuala Tanjung masih menghadapi hambatan teknis dan struktural, mulai dari waktu bongkar muat yang lama, hingga konektivitas hinterland yang belum optimal.
“Kalau biaya logistik dan efisiensi kita belum bisa menyaingi pelabuhan di Singapura atau Port Klang, jangan harap investor global mau menjadikan Indonesia sebagai hub,” ucap Capt. Hakeng.
Di tengah tekanan biaya asuransi pelayaran internasional yang terus meningkat akibat konflik, sektor pelayaran Indonesia semakin rentan.
PHK Massal
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!