Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Asia Tahan Diri Tingkatkan Impor Energi AS Meski Tekanan Dagang Meningkat

📅 Selasa, 10 Jun 2025, 18:20 WIB | Oleh:
Asia Tahan Diri Tingkatkan Impor Energi AS Meski Tekanan Dagang Meningkat Doc: Reuters
Ket. Sebuah kapal tanker minyak membongkar minyak mentah di terminal minyak mentah di Zhoushan, provinsi Zhejiang, Tiongkok

JAKARTA - Negara-negara di Asia belum menunjukkan antusiasme besar dalam meningkatkan impor energi dari Amerika Serikat, meskipun langkah tersebut dapat merespons tuntutan Presiden Donald Trump untuk mengurangi surplus perdagangan dengan kawasan ini. Meski minyak mentah, gas alam cair (LNG), dan batu bara menjadi komoditas utama dalam hubungan dagang, data menunjukkan bahwa permintaan Asia terhadap energi AS justru menurun dalam beberapa bulan terakhir.

Dalam empat bulan penuh sejak Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS, impor energi dari AS ke Asia justru lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Impor minyak mentah dari Februari hingga Mei tercatat sebesar 1,53 juta barel per hari, sedikit turun dari 1,55 juta barel per hari pada periode yang sama di tahun 2024, menurut data analis komoditas Kpler. Untuk LNG, penurunan lebih drastis terjadi, dari 8,04 juta metrik ton menjadi hanya 4,78 juta ton pada periode yang sama.

Impor batu bara dari AS ke Asia juga mengalami penurunan, dengan total 13,79 juta ton dari Februari hingga Mei, turun dari 14,19 juta ton pada tahun sebelumnya. Penurunan ini menandakan bahwa kawasan pengimpor energi terbesar di dunia belum menjadikan komoditas energi AS sebagai prioritas utama, meski tekanan diplomatik dan ekonomi dari Washington meningkat.

Namun, data juga mengungkap bahwa ada dinamika baru yang mulai muncul, terutama dari India. Negara tersebut secara bertahap meningkatkan pembelian energi dari AS. Impor minyak mentah India dari AS mencapai 253.000 barel per hari dalam empat bulan terakhir, naik dari 175.000 barel per hari pada periode yang sama tahun lalu. Bahkan, pada Juni, Kpler memperkirakan angka tersebut akan melonjak menjadi 439.000 barel per hari—jumlah tertinggi kedua sepanjang sejarah.

India juga mencatat rekor impor batu bara dari AS pada Mei sebesar 3,1 juta ton, sementara total impor sepanjang Februari hingga Mei mencapai 8,82 juta ton, naik 12 persen dari tahun sebelumnya. Meskipun kontribusi batu bara dan minyak AS terhadap total impor India masih kecil, peningkatan ini bisa menjadi indikasi adanya strategi diplomatik India untuk mempererat hubungan ekonomi dengan Washington.

Sementara India bergerak aktif, Jepang dan Tiongkok justru menunjukkan penurunan yang signifikan. Jepang mengimpor 1,75 juta ton batu bara dari AS antara Februari hingga Mei, turun dari 2,15 juta ton pada tahun sebelumnya. Untuk LNG, hanya 1,04 juta ton yang dikirim ke Jepang, jauh lebih rendah dari 1,75 juta ton pada periode yang sama tahun lalu. Faktor harga menjadi salah satu penyebab utama turunnya pembelian, karena kargo LNG AS lebih menguntungkan jika dijual ke Eropa yang tengah membangun ulang cadangan gas pascamusim dingin.

Tiongkok bahkan hampir menghentikan sepenuhnya impor energi dari AS. Tidak ada pengiriman LNG dari AS ke Tiongkok dalam tiga bulan berturut-turut, sementara impor batu bara hanya satu kargo kecil sekitar 35.000 ton pada Mei. Tidak ada pengiriman minyak mentah sama sekali pada bulan yang sama. Perang tarif yang berkepanjangan diyakini menjadi penyebab utama stagnasi hubungan dagang energi kedua negara tersebut.

Selain India, Korea Selatan menjadi negara Asia lainnya yang mencatat kenaikan impor energi AS. Impor minyak mentah dari AS mencapai 593.000 barel per hari pada Mei, tertinggi kedua yang pernah tercatat. Korea Selatan juga meningkatkan pembelian LNG, dengan 560.000 ton pada Mei, dan diperkirakan naik menjadi 570.000 ton pada Juni menurut data Kpler.

Secara keseluruhan, kawasan Asia belum memberikan respons besar terhadap tekanan dagang dari Trump dengan meningkatkan impor energi. Bisa jadi negara-negara tersebut masih menunggu momentum diplomatik yang tepat, atau menilai bahwa harga energi dari AS saat ini belum kompetitif dibandingkan sumber lain seperti Timur Tengah, Rusia, atau negara tetangga di Asia-Pasifik. Namun hingga saat ini, strategi untuk menurunkan surplus perdagangan melalui pembelian komoditas energi AS belum menjadi kenyataan nyata di kawasan Asia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Pengukuhan dan Pengambilan Sumpah Komcad ASN

42 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
Pengukuhan dan Pengambilan ...

Upaya Pembersihan Sampah di Kawasan Laut Jakarta

42 menit yang lalu | Fajar Alim M

Megapolitan
Upaya Pembersihan Sampah di...

Langkah Fajar/Fikri Berakhir di Babak 32 Besar

42 menit yang lalu | Fajar Alim M

Olahraga
Langkah Fajar/Fikri Berakhi...
Megapolitan
Voting Bipartisan DPR AS Pu...
Nasional
Kejagung Resmi Tahan Mantan...
Ekonomi
Pemerintah Siapkan Perubaha...
Nasional
Diskusi, Demokrasi Pancasil...

DPR Merespons Berbagai Isu Terkini

1.5 jam yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
DPR Merespons Berbagai Isu ...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.