Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Mentan: Beras SPHP Hanya Disalurkan Saat Mendesak

📅 Rabu, 04 Jun 2025, 21:56 WIB | Oleh: Tim Penulis
Mentan: Beras SPHP Hanya Disalurkan Saat Mendesak Doc: Antara
Ket. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memberi keterangan pers di Jakarta, Rabu (4/6).

Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menekankan penyaluran beras Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) hanya dilakukan bila dalam kondisi mendesak agar tidak menekan harga gabah di tingkat petani dan tetap menjaga keseimbangan pasar.

Amran ditemui di Jakarta, Rabu (4/6), mengatakan meskipun saat ini stok cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 4 juta ton yang tersimpan di gudang Perum Bulog, namun penyaluran beras melalui Program SPHP masih menunggu evaluasi situasi lapangan secara menyeluruh.

"Kita lihat keadaan, kalau itu tidak mendesak, jangan dulu (disalurkan beras SPHP)," kata Mentan.

Penyaluran beras SPHP tidak akan dilakukan bila tidak dalam kondisi mendesak, karena langkah tersebut dikhawatirkan dapat menekan harga gabah yang justru akan merugikan petani.

Langkah selektif dalam distribusi SPHP diambil guna memastikan keseimbangan harga di tingkat produsen dan konsumen tetap terjaga, serta menghindari dampak buruk terhadap kesejahteraan petani nasional.

Pemerintah tetap mempertimbangkan untuk menyalurkan SPHP bila dibutuhkan masyarakat.

"Kenapa? Penyaluran SPHP itu bisa memukul harga (gabah), memukul balik ke petani. Tetapi kalau dibutuhkan, nah (segera di salurkan)," kata Mentan.

Sebelumnya, pada kesempatan terpisah, Mentan menyebut stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang saat ini dikelola oleh Perum Bulog mencapai 4 juta ton lebih, angka tertinggi yang pernah dicapai Indonesia dalam waktu 57 tahun terakhir.

Amran yakin target swasembada beras yang semula ditargetkan terwujud pada tahun ke-4 pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, dapat tercapai lebih cepat yaitu pada tahun ke-3.

“Target dari Bapak Presiden, dari awal rencana kita swasembada 4 tahun, kemudian 3 tahun. Mudah-mudahan tahun ini tidak ada impor,” kata Mentan Amran Sulaiman saat jumpa pers di Kantor Presiden, Istana Kepresidenan RI Jakarta, Senin (2/6).

“Stok (beras) kita sekarang ini ada 4 juta ton lebih, tertinggi selama 57 tahun, dan pernah kita capai 3 juta ton itu tahun 1984,” sambung Amran.

Di sisi lain, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi mengatakan saat ini beras SPHP belum bisa disalurkan karena masih dalam masa panen raya.

Program ini sendiri memerlukan rapat koordinasi terbatas (rakortas) dengan Presiden Prabowo.

"Itu kan ada anggaran pemerintah untuk melakukan stabilisasi. Kalau kita lagi panen raya, panen rayanya belum habis, SPHP-nya tidak perlu, kecuali daerah-daerah tertentu harga berasnya sudah naik," kata Arief di Jakarta, Jumat (16/5).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Rieke Buka Pameran Warna-Warni Parlemen 2026

44 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
Rieke Buka Pameran Warna-Wa...
Olahraga
Chelsea Umumkan Transfer Ge...
Megapolitan
Obsesi Jadi Vampir, Pria In...
Luar Negeri
Trump Beri Iran Kesempatan ...

Defisit Migas Tekan Neraca Perdagangan

1.5 jam yang lalu | Lukman

Nasional
Defisit Migas Tekan Neraca ...
Nasional
RUU Perampasan Aset Jangan ...

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.