Tanpa Antisipasi Dini, Pertumbuhan Ekonomi 2025 bisa Lebih Rendah dari Proyeksi
📅 Kamis, 22 Mei 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 menjadi ke kisaran 4,6 hingga 5,4 persen. Gubernur BI, Perry Warjiyo di Jakarta, Rabu (21/5) mengatakan, kisaran proyeksi baru itu sedikit lebih rendah dibanding prakiraan sebelumnya yang berada pada kisaran 4,7 hingga 5,5 persen. Penyesuaian tersebut dengan melihat realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan I-2025 yang tercatat 4,87 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
“Perkembangan terkini pada triwulan II-2025 yang ditunjukkan oleh sejumlah indikator menunjukkan perlunya terus memperkuat upaya-upaya untuk mendorong berbagai kegiatan ekonomi,” kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI.
Faktor lain yang turut memengaruhi perubahan proyeksi jelas Perry adalah dengan mempertimbangkan dinamika global, termasuk dampak kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS).
Dari sisi domestik, Perry menjelaskan pertumbuhan ekonomi pada awal tahun ini terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode libur tahun baru dan Idul Fitri.
Selain itu, investasi non bangunan mencatatkan pertumbuhan positif sejalan dengan realisasi penanaman modal, meski investasi bangunan mengalami perlambatan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Begitu pula dengan ekspor yang memberikan kontribusi dengan dukungan dari kinerja sektor industri pengolahan, perdagangan, transportasi dan pergudangan, serta pertanian.
BI jelas Perry memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal membaik pada semester II-2025.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan membaik pada semester II-2025, didorong peningkatan permintaan domestik termasuk dari kenaikan belanja pemerintah,” kata Perry.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tidak Substansial
Menanggapi revisi tersebut, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata mengatakan koreksi dari bank sentral itu sebagai langkah realistis, karena proyeksi sebelumnya kurang mencerminkan perubahan substansial terhadap tantangan yang dihadapi perekonomian nasional.
“Koreksi ini di satu sisi mencerminkan adanya upaya untuk lebih realistis dalam melihat situasi ekonomi ke depan. Namun di sisi lain, dilihat dari kecilnya koreksi, ini relatif tidak substantial dibandingkan proyeksi lainnya,” katanya.
Aloysius pun membandingkan koreksi dari BI tersebut dengan proyeksi terbaru dari International Monetary Fund (IMF) yang pada April lalu menurunkan estimasi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen atau turun 0,4 poin dari sebelumnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa perhatian utama seharusnya tidak hanya tertuju pada angka koreksi, melainkan pada bagaimana pemerintah menciptakan dan menjaga peluang untuk mencapai target pertumbuhan tersebut.
Menurutnya, tantangan eksternal seperti kebijakan tarif resiprokal dari Amerika Serikat harus diantisipasi secara strategis.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!