Investasi yang Bebas Pungli, Kunci Hasilkan Produk Berdaya Saing

Senin, 19 Mei 2025, 02:15 WIB

JAKARTA - Konsumen harus menjadi kunci utama untuk meningkatkan daya saing produk dalam negeri. Peran konsumen itu bisa direalisasikan dengan bersikap kritis, cerdas dan berdaya terhadap produk yang mereka beli. 

Dalam puncak peringatan Hari Konsumen Nasional di Jakarta, Minggu (18/5), Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso kalau konsumen berpikir cerdas, kritis dan berdaya terhadap produk yang dibelinya, maka produsen akan memproduksi produk tersebut memiliki daya saing.

Ket. Foto: Wibisono Hardjopranoto Pengamat ekonomi dari Universitas Surabaya - Pemerintah juga bisa berperan dengan menciptakan iklim bisnis yang sehat dan bebas pungli supaya industri dalam negeri bisa menghasilkan produk yang lebih terjangkau. — Sumber: istimewa

“Kalau tidak berdaya saing pasti produk yang dihasilkan produsen dalam negeri tidak akan dibeli konsumen. Jadi kita bisa mendorong mereka untuk menjadikan produknya berkualitas dan berdaya saing. Konsumen itu kunci utama dalam pembangunan,” kata Mendag.

Konsumen jelasnya menjadi kunci utama yang sangat penting dalam pembangunan termasuk bagaimana agar produk-produk dalam negeri bisa menyaingi produk-produk impor. Produk-produk impor bisa tersaingi kalau produk dalam negeri punya daya saing.

“Kalau kita punya daya saing, produk-produk kita sudah bagus pasti produk asing juga tidak masuk,” katanya.

Selain itu, dia juga mengajak konsumen untuk menggunakan dan membeli produk dalam negeri. “Produk kita sudah bagus untuk kita konsumsi, untuk kita pakai, tidak kalah dengan produk-produk asing,” katanya.

Dia pun mendorong para konsumen untuk berani menyampaikan keluhan kepada pemerintah jika hak-hak konsumen tidak terlindungi. “Kalau ada masalah jangan takut sampaikan, sampaikan kalau merasa tidak terlindungi hak-hak sebagai konsumen. Sampaikan kepada kami, kepada pemerintah agar kita bisa menindaklanjuti,” katanya.

Kalau konsumen cerdas, kritis, dan berani menyampaikan hal-hal yang tidak sesuai dengan hak-hak yang harus diterima oleh konsumen, maka pelaku usaha akan terus menghormati hak-hak tersebut.

Pengamat ekonomi dari Universitas Surabaya (Ubaya), Wibisono Hardjopranoto, mengatakan, kunci penciptaan produk berdaya saing adalah penguasaan teknologi yang dapat melahirkan inovasi dan keunggulan khas suatu produk.

“Dari dulu masyarakat atau konsumen adalah raja karena mereka bebas menentukan pilihan barang yang ia ingin beli berdasarkan kebutuhannya masing-masing,” kata Wibisono.

Penentuan pilihan tergantung beberapa faktor, terutama keunggulan produk yang ia pilih dan faktor keterjangkauan harga. Soal harga tidak hanya murah, konsumen kelas menengah bisa saja rela keluar uang lebih banyak asalkan barang yang dibeli worthy (sepadan) dengan manfaat yang dia butuhkan.

“Ini yang harus disasar industri kita menciptakan produk yang punya nilai tambah tapi sesuai dengan kemampuan konsumen membayar. Pemerintah juga bisa berperan dengan menciptakan iklim bisnis yang sehat dan bebas pungli supaya industri dalam negeri bisa menghasilkan produk yang lebih terjangkau sehingga berdaya saing,” tuturnya.

Skala Besar

Secara terpisah, pengajar Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko mengatakan, secara makro memang sudah dipastikan konsumen berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) lebih dari 50 persen. Oleh karena daya beli konsumenitu berperansangat penting dalam meningkatkan kesejahteraan nasional.

Namun demikian, daya beli konsumen sangat berkaitan dengan pendapatan yang mereka peroleh dari dunia usaha. Oleh karena meningkatkan daya beli konsumen juga harus seiring peningkatan investasi baik domestik maupun asing.

“Di sinilah peran Pemerintah dalam mendukung terutama dalam kebijakan keuangan misalnya pajak dan subsidi, kebijakan kemitraan, perijinan keamanan dan infrastruktur,” kata Suhartoko.

Dengan jumlah penduduk yang besar sebagai konsumen, perusahaan manufaktur bisa berproduksi dalam skala yang besar, sehingga biaya rata rata menjadi murah dan begitu juga harga jualnya.

Sementara itu, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan menuturkan saat ini daya beli masyarakat nampaknya masih akan tertekan mengingat pemutusan hubungan kerja (PHK) masih marak terjadi di berbagai sektor ekonomi, termasuk sektor media massa, ritel, dan juga manufaktur.

Di lain sisi, investasi yang masih minim belum dapat menciptakan lapangan kerja baru sesuai harapan. Ini juga paparnya menjadi hambatan bagaimana meningkatkan konsumsi produksi dalam negeri.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.