Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tarif Trump Terhadap Film Asing Dikecam di Cannes: “Mimpi Buruk Bagi Industri”

📅 Jumat, 16 Mei 2025, 14:40 WIB | Oleh:
Tarif Trump Terhadap Film Asing Dikecam di Cannes: “Mimpi Buruk Bagi Industri” Doc: AFP

JAKARTA - Gagasan Donald Trump untuk mengenakan tarif 100 persen terhadap film-film yang diproduksi di luar Amerika Serikat menuai kecaman luas dari para pelaku industri film internasional yang berkumpul di Festival Film Cannes 2025. Bahkan mereka yang memilih Trump sekalipun menilai rencananya sebagai ancaman serius bagi industri hiburan global yang sudah terguncang akibat perubahan besar dari era streaming.

Tidak seperti aktor Robert De Niro yang secara terbuka menyebut Trump sebagai “presiden Amerika yang tidak bermoral” saat upacara pembukaan festival, sebagian pelaku industri di Cannes memilih tidak menyerang secara pribadi. Namun mereka tetap menyuarakan kekhawatiran mendalam terhadap dampak kebijakan ekonomi Trump terhadap dunia perfilman, khususnya sektor distribusi dan produksi.

“Saya tidak melihat manfaat apa pun dari apa yang coba dilakukannya. Kalau ada, itu malah bisa sangat merugikan kita,” kata Scott Jones, kepala Artist View Entertainment, yang hadir di Cannes dengan film "The Legend of Van Dorn", sebuah drama epik Perang Saudara yang direkam di Tennessee. “Banyak orang yang menganggur saat ini, dan ini tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik. Harus ada metode untuk kegilaan ini.”

Trump telah mengirim dua pendukung setianya—aktor Jon Voight dan Sylvester Stallone—sebagai semacam “duta besar khusus” untuk menjelaskan maksud kebijakan tersebut kepada komunitas film. Keduanya menandatangani surat yang mengucapkan terima kasih kepada Trump atas perhatiannya terhadap produksi asing yang menurut mereka “tidak terkendali”. Namun, mereka juga mendorong agar insentif pajak dalam negeri diperkuat sebagai alternatif, bukan dengan memberlakukan tarif keras.

Koalisi besar yang terdiri dari kelompok produser, sutradara, dan penulis naskah Hollywood juga mengeluarkan pernyataan bersama menentang tarif tersebut. “Lebih dari 80 negara menawarkan insentif pajak produksi dan sebagai hasilnya, banyak produksi yang seharusnya bisa syuting di Amerika malah berlokasi di tempat lain,” kata mereka. Hal ini, menurut mereka, menuntut kebijakan cerdas, bukan pembatasan sepihak.

Contoh paling menonjol dari fenomena ini adalah film blockbuster "Mission: Impossible – The Final Reckoning" yang dibintangi Tom Cruise, yang sebagian besar produksinya dilakukan di Inggris dan Afrika Selatan. Louise Lantagne, kepala Quebecreatif yang mendukung industri film Kanada, mengatakan, “Film-film Hollywood dibuat di seluruh dunia. Tentu saja akan sangat sulit jika tarif benar-benar diberlakukan, tetapi untuk saat ini itu hanya sekadar cuitan – meskipun semua orang benar-benar tertekan oleh pernyataan ini.”

Di antara kalangan agen dan produser independen, skeptisisme terhadap kelayakan tarif ini juga mengemuka. Monique White dari California Pictures menyebut rencana tarif sebagai “tidak layak” secara hukum. “Tarif secara hukum dan teknis tidak mungkin diberlakukan tanpa mengubah undang-undang di Kongres, yang tampaknya tidak mungkin,” ujarnya.

Namun kekhawatiran tetap ada. Seorang produser veteran, yang memilih Trump dalam dua pemilu terakhir dan meminta namanya tidak disebutkan, mengatakan bahwa pernyataan Trump saja sudah cukup untuk menciptakan keraguan besar di kalangan investor. “Ancaman tarif saja sudah menghancurkan kepercayaan. Investor, terutama yang asing, tidak ingin terbakar di kemudian hari. Dia membunuh kita,” ujarnya tajam.

Lantagne menambahkan bahwa, secara praktis, akan sangat sulit untuk menentukan mana film yang benar-benar "Amerika" dalam era kolaborasi internasional. “Pendanaan dan bakat kini sudah sangat internasional. Jika tarif ini diterapkan, itu akan menjadi mimpi buruk birokrasi.”

Dengan industri yang sangat bergantung pada kerja lintas negara dan insentif global, mayoritas pelaku film yang hadir di Cannes menganggap bahwa rencana Trump lebih banyak membawa kekacauan daripada solusi. Bagi mereka, masa depan film Amerika terletak pada kerja sama, bukan proteksionisme.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Pelaksanaan program penghapusan bentor

12 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Pelaksanaan program penghap...
Megapolitan
Pemprov DKI gelar program o...
Megapolitan
Jelang Pertunjukkan Teater ...
Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.