• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Stasiun Tugu Yogyakarta: L...

Stasiun Tugu Yogyakarta: Lebih dari Sekadar Spot Foto Instagramable! Ini Fakta Menariknya

Jumat, 16 Mei 2025, 11:10 WIB

YOGYAKARTA - Transformasi Stasiun Tugu Yogyakarta menjadi ruang publik yang Instagramable memang menarik perhatian banyak orang. Namun, di balik gemerlap lampu dan spot foto kekinian, tersimpan sejarah panjang dan fungsi vital sebagai pintu gerbang Kota Gudeg. Mengulik lebih dalam fakta-fakta ini akan memberikan apresiasi yang lebih utuh terhadap ikon Yogyakarta ini.

Stasiun Tugu Yogyakarta, yang dikenal luas sebagai salah satu stasiun paling Instagramable di Indonesia berkat proyek beautifikasi PT KAI sejak 2024, menyimpan lebih banyak cerita dan fakta menarik di balik tampilan barunya. Lebih dari sekadar spot foto viral, stasiun ini adalah saksi bisu perkembangan kota dan memiliki nilai historis yang patut diulik lebih dalam.

Ket. Foto: Salah satu daya tarik utama yang kini menjadi incaran para pemburu foto adalah Pintu Timur. — Sumber: Istimewa/yds

Salah satu daya tarik utama yang kini menjadi incaran para pemburu foto adalah Pintu Timur. Faktanya, pintu ini bukan sekadar background estetik dengan gemerlap lampu di malam hari, melainkan merupakanpintu masuk utama pertama Stasiun Tugu sebelum adanya pengembangan ke sisi selatan. Pintu ini menjadi saksi kedatangan para pelancong dan tokoh penting yang menginjakkan kaki di Yogyakarta melalui jalur kereta api sejak stasiun ini berdiri.

Selain Pintu Timur, area interior stasiun yang kini juga dihiasi berbagai sudut menarik, dulunya memiliki fungsi yang lebih sederhana dan vital bagi perjalanan kereta api. Ruang tunggu, loket, dan peron menjadi pusat aktivitas yang menghubungkan Yogyakarta dengan berbagai kota di Pulau Jawa. Transformasi ini, yang memadukan estetika modern dengan sentuhan budaya lokal, memang patut diapresiasi. Namun, tak boleh melupakan fungsi aslinya sebagai infrastruktur transportasi penting.

Plt Sekretaris Perusahaan KAI Properti, Ramdhani Subagja, mengungkapkan bahwa beautifikasi Stasiun Yogyakarta didasari oleh posisinya sebagai etalase utama kota bagi para pendatang. Kesan pertama yang hangat dan membanggakan menjadi prioritas. "Melalui proyek beautifikasi ini, kami ingin menghadirkan ruang yang tidak hanya fungsional, tetapi juga estetis dan relevan dengan karakter lokal,” katanya, Kamis (15/5/2025).

Dr. Tjahjono Rahardjo, seorang sejarawan arsitektur dari Universitas Gadjah Mada, pun menjelaskan bahwa Stasiun Tugu memiliki nilai sejarah yang signifikan bagi perkembangan Yogyakarta.

"Stasiun ini dibangun pada masa kolonial Belanda dan menjadi salah satu infrastruktur penting yang mendukung mobilitas ekonomi dan sosial di wilayah ini. Bentuk arsitekturnya pada masa awal tentu berbeda, namun penambahan elemen modern saat ini tetap harus menghargai jejak-jejak masa lalu," ujarnya saat dihubungi Koran Jakarta.

Lebih lanjut, Dr. Tjahjono menyoroti pentingnya memahami evolusi fungsi stasiun. "Dulu, stasiun adalah murni tempat naik turun penumpang dan bongkar muat barang. Kini, dengan perkembangan zaman, stasiun bertransformasi menjadi ruang publik yang lebih inklusif, bahkan menjadi daya tarik wisata. Namun, esensi utamanya sebagai simpul transportasi tidak boleh hilang," tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, Budayawan Yogyakarta, KRT Kintoko, menambahkan bahwa penambahan sentuhan budaya lokal dalam beautifikasi Stasiun Tugu merupakan langkah positif.

"Ini menunjukkan adanya upaya untuk mempertahankan identitas Yogyakarta di tengah modernisasi. Namun, penting untuk memastikan bahwa elemen budaya yang ditampilkan memiliki representasi yang kuat dan tidak sekadar tempelan visual," katanya.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Yuniar Dwi Setiawati

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.