Orang Tua Pilih Bekerja Dekat Rumah untuk Kurangi Beban Pengasuhan Anak Saat Libur Sekolah

Kamis, 06 Agu 2026, 19:53 WIB

JAKARTA – Libur sekolah tidak selalu menjadi masa yang mudah bagi orang tua yang bekerja. Ketika anak lebih banyak berada di rumah, orang tua harus membagi waktu antara menyelesaikan pekerjaan dan memastikan kebutuhan pengasuhan tetap terpenuhi.

Kondisi tersebut tergambar dalam riset terbaru International Workplace Group (IWG). Survei itu menunjukkan 69 persen orang tua yang bekerja merasa stres dalam mengatur pengasuhan anak selama periode libur sekolah.

Ket. Foto: Ilustrasi kerja dekat rumah. Riset IWG mengungkap 69 persen orang tua merasa stres mengatur pengasuhan anak saat libur sekolah. Kerja fleksibel dan dekat rumah dinilai membantu. — Sumber: IWG

Salah satu solusi yang dinilai dapat meringankan beban tersebut adalah tersedianya tempat kerja yang lebih dekat dengan rumah. Sebanyak 78 persen responden mengatakan akses terhadap ruang kerja lokal dapat membantu mengurangi tekanan dalam mengatur pengasuhan anak.

Kebutuhan terhadap fleksibilitas kerja juga semakin besar karena biaya pengasuhan anak selama masa liburan cenderung meningkat. Sebanyak 74 persen orang tua yang disurvei menyatakan membutuhkan pola kerja fleksibel untuk membantu menekan biaya penitipan anak.

Sementara itu, 27 persen responden memperkirakan pengeluaran mereka untuk pengasuhan anak selama musim liburan sekolah tahun ini lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.

Fleksibilitas Kerja Berkurang

Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks ketika perusahaan mengurangi fleksibilitas kerja. IWG mencatat, sebanyak 55 persen orang tua mengatakan kebijakan kerja fleksibel di tempat mereka bekerja berkurang tahun ini. Angka tersebut meningkat dibandingkan 33 persen pada 2025.

Berkurangnya fleksibilitas membuat orang tua harus mencari cara lain untuk membagi tanggung jawab pekerjaan dan pengasuhan.

Sebanyak 27 persen responden mengaku semakin bergantung pada bantuan teman dan keluarga selama masa liburan sekolah. Selain itu, 26 persen menilai kewajiban bekerja dari kantor pusat turut memperbesar ketimpangan pembagian tanggung jawab pengasuhan dengan pasangan.

Tekanan tersebut juga dirasakan lebih besar oleh ibu yang bekerja. Dalam survei tersebut, 75 persen ibu mengaku merasakan tekanan tambahan dalam mengelola pengasuhan anak selama libur sekolah, dibandingkan 66 persen ayah.

Pola Kerja Ikut Berubah

Rutinitas keluarga selama liburan sekolah ternyata turut memengaruhi aktivitas profesional orang tua. Sebanyak 75 persen responden mengatakan perubahan rutinitas keluarga berdampak terhadap kehidupan kerja mereka.

Sekitar 26 persen mengaku lebih sulit berkonsentrasi ketika harus mengerjakan pekerjaan sekaligus menangani tanggung jawab di rumah.

Sebagian orang tua akhirnya menggunakan cuti tahunan untuk menggantikan kebutuhan pengasuhan anak. Sebanyak 28 persen responden mengatakan mereka menggunakan sebagian jatah cuti untuk mengasuh anak selama liburan sekolah.

Bahkan, 18 persen responden mengaku menghabiskan seluruh jatah cuti tahunan mereka untuk kebutuhan pengasuhan selama periode tersebut.

Penyesuaian juga dilakukan terhadap jam dan pola kerja. Sebanyak 22 persen orang tua mengurangi jumlah rapat atau panggilan kerja, atau memilih menyelesaikan pekerjaan hingga larut malam. Sebanyak 21 persen lainnya memilih memulai hari kerja lebih awal agar pekerjaan tetap dapat diselesaikan.

Bekerja Lebih Dekat dengan Rumah

Di tengah berbagai penyesuaian tersebut, bekerja lebih dekat dengan rumah menjadi salah satu pilihan yang dianggap dapat membantu orang tua.

Sebanyak 83 persen responden menyatakan bersedia memanfaatkan ruang kerja fleksibel profesional yang lokasinya lebih dekat dengan tempat tinggal apabila fasilitas tersebut disediakan oleh perusahaan.

Selain membantu pengaturan pengasuhan, 27 persen responden menilai kebijakan tersebut dapat memberi mereka lebih banyak waktu berkualitas bersama anak selama musim liburan.

Pilihan bekerja lebih dekat dengan rumah juga berpotensi mengurangi biaya transportasi. Sebanyak 69 persen orang tua yang disurvei mengatakan mereka dapat mengeluarkan biaya transportasi lebih rendah selama periode tersebut. Penghematan itu kemudian dapat dialihkan untuk memenuhi kebutuhan pengasuhan anak.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa fleksibilitas kerja tidak hanya berkaitan dengan lokasi bekerja, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap pengelolaan biaya dan waktu keluarga.

Kerja Hibrida Dinilai Menguntungkan Perusahaan

Manfaat kerja fleksibel tidak hanya dirasakan oleh pekerja. IWG bersama Arup dalam penelitian terbaru menemukan bahwa perusahaan yang memberikan kesempatan kepada karyawan untuk menggunakan ruang kerja dan kantor lokal sebagai bagian dari strategi kerja hibrida berpotensi meningkatkan produktivitas hingga 12 persen dalam lima tahun mendatang.

Pengaturan kerja fleksibel juga dinilai dapat membantu perusahaan mempertahankan karyawan. Penelitian tersebut menemukan bahwa fleksibilitas dapat menurunkan tingkat pengunduran diri secara sukarela hingga 20 persen di Amerika Serikat.

Dampaknya diperkirakan dapat menghasilkan penghematan hingga 22 miliar dolar AS per tahun pada 2030 dan mencapai 45 miliar dolar AS pada 2045.

Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan kerja fleksibel dapat menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mengelola sumber daya manusia, sekaligus membantu karyawan menghadapi kebutuhan keluarga yang berubah-ubah.

Chief Commercial Officer IWG Fatima Koning mengatakan fleksibilitas tempat kerja tidak hanya mendukung kesejahteraan keluarga, tetapi juga berhubungan dengan kesehatan mental dan kepuasan kerja.

“Dengan mengakomodasi kebutuhan orang tua yang bekerja melalui akses yang lebih baik ke tempat kerja, terutama ruang kerja lokal, perusahaan dapat menumbuhkan lingkungan kerja yang lebih mendukung dan produktif, serta pada akhirnya mendorong produktivitas dan retensi talenta perusahaan,” kata Fatima melalui siaran pers pada hari Kamis (6/8).

Bagi orang tua yang bekerja, periode libur sekolah pada akhirnya bukan hanya persoalan mengatur jadwal anak. Biaya pengasuhan, perjalanan menuju kantor, waktu kerja, hingga pembagian tanggung jawab di rumah ikut menjadi faktor yang harus diperhitungkan.

Karena itu, kemampuan untuk bekerja secara fleksibel dan lebih dekat dengan rumah menjadi salah satu alternatif yang dinilai dapat membantu keluarga melewati periode liburan sekolah tanpa harus mengorbankan pekerjaan maupun waktu bersama anak.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.