QRIS Melesat, Transaksi Tembus 12,55 Miliar di Semester I 2026

Kamis, 06 Agu 2026, 19:50 WIB

BADUNG – Pertumbuhan transaksi digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) mencerminkan semakin kuatnya transformasi sistem pembayaran nasional menuju ekonomi yang lebih efisien dan inklusif.

Adopsi yang terus meningkat tidak hanya memperluas akses pembayaran non-tunai bagi masyarakat, tetapi juga mempercepat digitalisasi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), meningkatkan transparansi transaksi, dan memperkuat efisiensi aktivitas ekonomi.

Ket. Foto: Ilustrasi - Pelanggan sedang membayar minuman via transaksi digital menggunakan fitur QRIS, di Palembang, Sumsel. — Sumber: ANTARA/ Ahmad Rafli Baiduri

Ke depan, tantangan utamanya adalah memperluas interoperabilitas, meningkatkan keamanan siber, serta mendorong literasi digital agar pemanfaatan QRIS dapat memberikan dampak yang lebih merata di seluruh wilayah Indonesia.

Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi digital QRIS menembus 12,55 miliar di tanah air sepanjang paruh pertama 2026 atau tumbuh 100,12 persen dibandingkan periode sama pada 2025.

"QRIS sebagai gerbang ekonomi digital sekaligus pengubah keadaan bagi ekonomi dan keuangan digital nasional," kata Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta di sela Prima Executive Gathering 2026 di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Kamis (6/8).

Menurut dia, realisasi itu menegaskan pembayaran digital kini menjadi kebiasaan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Filianingsih memaparkan hingga akhir Juni 2026, nilai transaksi QRIS mencapai Rp600,69 triliun atau tumbuh 89,52 persen secara tahunan.

Pertumbuhan itu menandakan masyarakat semakin nyaman meninggalkan uang tunai dan beralih ke transaksi berbasis pemindaian kode melalui telepon pintar.

Sementara itu, dari sisi jangkauan, layanan itu kini digunakan oleh sekitar 66 juta orang dan diterima di 44,86 juta gerai (merchant) di seluruh Indonesia.

Bank sentral itu menargetkan 70 juta pengguna dan 47 juta merchant hingga akhir 2026, sehingga capaian pada tengah tahun itu menunjukkan laju yang deras.

Untuk volume transaksi, target sepanjang 2026 dipatok 17 miliar sehingga dengan capaian 12,55 miliar pada semester pertama, kata dia, berarti hampir tiga perempat target telah terpenuhi.

Sebagian besar merchant QRIS merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang sebelumnya sulit menerima pembayaran nontunai.

Melalui kode yang cukup dicetak di kertas, pedagang kecil kini dapat menerima pembayaran dari beragam bank dan dompet digital.

Kondisi itu turut mendorong inklusi keuangan, yakni makin luasnya masyarakat yang tersentuh layanan keuangan formal.

Ia menambahkan kekuatan QRIS terletak pada infrastruktur yang terintegrasi dan memiliki interoperabilitas di seluruh penyelenggara pembayaran.

Dengan sifat itu, satu kode dapat dipindai oleh aplikasi dari bank maupun penyedia jasa pembayaran mana pun tanpa hambatan.

QRIS merupakan standar kode respons cepat nasional yang menyatukan beragam aplikasi pembayaran ke dalam satu format seragam.

Sebelum QRIS hadir, setiap penyedia memiliki kode berbeda sehingga pedagang harus memasang banyak stiker pembayaran sekaligus.

Ekosistem pendukung QRIS pun kian luas, melibatkan 96 bank, 60 lembaga nonbank, dan empat lembaga switching atau lembaga yang berfungsi untuk memproses data transaksi pembayaran.

Struktur tersebut menjadi bukti bahwa keterhubungan antarpelaku dalam sistem pembayaran nasional terus menguat dari waktu ke waktu.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.